Dunia modern begitu kering. Kita terobsesi dengan hitungan kalori, suplemen mahal, hingga keanggotaan pusat kebugaran yang menguras dompet. Padahal, obat paling manjur yang kita miliki seringkali terabaikan begitu saja.
Tawa. Sesuatu yang muncul tanpa biaya, meledak di tenggorokan, dan menyebar seperti wabah yang menyenangkan.
Manusia memang makhluk aneh.
Kita tertawa tiga puluh kali lebih sering saat berada di dekat orang lain daripada saat sendirian. Tawa bukan sekadar reaksi terhadap lelucon receh. Ia adalah kode komunikasi purba. Sebuah tanda bahwa kita menyukai keberadaan sesama. Kita meniru tawa orang lain seolah-olah otak kita diprogram untuk berbagi getaran yang sama.
Begitu tawa pecah, tubuh bergejolak. Endorfin menyembur ke aliran darah. Rasa sakit yang tajam di sekujur tubuh mendadak tumpul. Kita merasa lebih ringan. Enam tahun pertama kehidupan, kita tertawa tiga kali lebih sering daripada orang dewasa yang kaku. Sayang, semakin beranjak tua, kita justru semakin gemar menekuk wajah.
Sistem imun kita berpesta saat kita tertawa lepas. Oksigen membanjiri paru-paru lebih melimpah daripada napas dangkal yang kita ambil saat sedang stres memikirkan cicilan. William Fry, seorang perintis ilmu gelotologi, membuktikan bahwa tawa yang keras memicu produksi sel-sel kekebalan tubuh yang lebih banyak. Semakin keras tawa, semakin kuat pertahanan diri kita dari serangan penyakit.
Tawa juga bekerja sebagai senam perut dadakan. Otot perut mengembang dan mengempis dengan irama cepat. Sesi tertawa selama lima belas menit bahkan sanggup membakar kalori setara dengan lari-lari kecil di taman. Jantung berdetak lebih kencang, tekanan darah melonjak sesaat, lalu turun lebih rendah dari sebelumnya. Ini adalah latihan kardio yang tidak membosankan.
Jangan tertipu oleh tawa yang dipaksakan. Otak kita jauh lebih pintar. Kita bisa membedakan mana tawa yang lahir dari kejujuran dan mana yang sekadar kepura-puraan. Saat mendengar tawa palsu, bagian otak yang bernama korteks prefrontal medial anterior langsung bekerja keras mengidentifikasi ketidakberesan emosi tersebut. Tawa palsu terkadang menyingkap kerentanan atau rasa tidak aman di dalam diri seseorang.
Tawa merangkai hubungan. Ia menjadi pelumas dalam interaksi sosial yang sering kali tersendat. Hubungan yang sehat membutuhkan tawa sebagai fondasi. Jika Anda merasa hidup ini terlalu berat, carilah seseorang untuk berbagi tawa. Bukan karena kita butuh lelucon yang hebat, tetapi karena kita butuh koneksi yang manusiawi.
Berhentilah memasang muka muram seolah beban dunia ada di pundak. Tertawalah. Meski tanpa alasan yang jelas, meski dunia di sekitar tidak memberikan sebab untuk merasa gembira. Biarkan tubuh kita memproduksi kebahagiaannya sendiri. Kesehatan bukan selalu soal obat di meja dokter, melainkan soal keberanian untuk melepas tawa hingga perut terasa nyeri.