Tontonlah film ini sendirian. Duduklah di ruangan gelap, biarkan sunyi menyergap. Menonton bersama kawan justru merusak keasyikan. Diskusi kelompok tentang ke mana arah cerita akan membuat akhir film terasa tawar. Kejutannya menguap sebelum sempat menyentuh saraf.
Alurnya menuntut perhatian. Karakter-karakter dalam film ini menyembunyikan maksud di balik setiap gerak-gerik mereka. Penonton dipaksa bertanya. Siapa sebenarnya mereka? Mengapa mereka bertindak demikian? Saya mencoba menebak-nebak, mencari celah di balik plot yang terjalin. Permainan tebak-tebakan itu membawa saya pada jawaban yang tepat. Sesuatu yang jujur saya katakan, tidak begitu mengejutkan seperti harapan awal.
Kekuatan utama film ini terletak pada akting. Saya terpukau. Kang Ha Neul tampil cemerlang, persis seperti ekspektasi saya. Namun, tatapan saya terkunci pada Kim Mu Yeol. Ia mencuri perhatian. Mu Yeol memerankan sisi lembut dan bersahabat dengan fasih, lalu dalam sekejap, ia bertransformasi menjadi sosok gila yang didorong obsesi tanpa batas. Keduanya ia eksekusi dengan sempurna.
Satu momen aneh justru membuat saya tertawa. Saya terpingkal-pingkal selama lima menit. Satu klise drama Korea klasik muncul, mengubah suasana film yang tadinya kelam menjadi tontonan komedi. Syukurlah adegan itu muncul di saat-saat terakhir. Jika hal tersebut terjadi lebih awal, saya pasti tidak akan sanggup menanggapi setiap adegan dengan serius.
Pada akhirnya, proses menebak alur terasa lebih menghibur dibanding film itu sendiri. Saya menikmati ketegangan saat mencoba membaca arah cerita lebih dari sekadar duduk diam menanti resolusi di layar.