Seorang penyelundup manusia meregang nyawa di rumah sakit Bundang. Bercak merah menjalar di sekujur kulitnya. Paru-parunya dipenuhi cairan, ia batuk darah. Dalam hitungan jam, virus menyebar liar ke penjuru kota.
Kematian menular dengan kecepatan yang mencekam. Mayat-mayat menumpuk di gang sempit dan koridor stasiun. Tenaga medis terperangah menghadapi musuh tak kasat mata. Pemerintah menutup pintu. Militer mengepung wilayah itu dengan barikade besi. Tidak ada akses keluar. Tidak ada harapan masuk. Keputusasaan memicu kerusuhan. Orang-orang sehat bertarung melawan mereka yang sekarat demi sepotong udara.
Film ini bekerja dengan baik. Amerika digambarkan begitu kejam, hampir menjadi parodi, tapi saya menikmati setiap kepahitan di dalamnya. Pemeran Presiden mencuri fokus. Ia memainkan sosok pemimpin yang peduli pada rakyatnya. Wajahnya sama dengan Perdana Menteri dalam film Pandora.
Akting para pemeran berada di kelas atas. Saya melihat Jang Hyuk di Voice, dan kehadirannya di sini memberi kepuasan tersendiri. Ia menghidupkan karakter dengan totalitas penuh. Park Min Ha, si gadis kecil, tampil begitu cemerlang. Saya berharap mereka berakhir sebagai satu keluarga yang utuh di ujung cerita.
Alur cerita meluncur deras. Saya tidak merasakan kebosanan sedikit pun. Tempo narasi terjaga dengan stabil. Musik pengiring membangun atmosfer yang pas di telinga. Ada satu adegan yang membuat perut saya mual hebat. Di tengah film, mereka membuang tumpukan mayat seperti sampah di lubang raksasa. Adegan itu menjijikkan. Sutradara barangkali bisa sedikit mengurangi intensitas kejijikan tersebut. Meski begitu, saya sadar adegan itu mencapai tujuannya. Saya berpihak pada warga Bundang. Saya berteriak dalam hati, persetan dengan pemerintah!