Dua ribu sepuluhan bukan waktu yang ramah bagi epik fantasi yang hanya mengandalkan pedang dan naga raksasa. Masa itu justru menjadi panggung bagi animasi untuk membuktikan diri. Film-film fantasi berhenti menjadi sekadar pelarian dari kenyataan. Mereka menukik tajam ke dalam duka, memori, identitas, dan sunyi. Dunia yang dibangun bukan lagi tentang kemegahan visual semata. Ia adalah cermin bagi luka manusia.
How to Train Your Dragon membuka dekade dengan keberanian. Hiccup, pemuda Viking yang tidak cocok dengan tradisi sukunya, memilih bersahabat dengan naga yang ditakuti. Roger Deakins, seorang maestro kamera, memberikan sentuhan visual yang menjadikan setiap sapuan sayap naga terasa nyata. Musiknya bekerja menyentuh saraf emosional kita. Ini adalah cerita tentang pendewasaan yang dibungkus petualangan yang megah.
Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 menutup waralaba dengan berat. Perang melawan Voldemort menyelimuti hampir seluruh durasi. Tidak ada ruang untuk bernapas. Kita menyaksikan para tokoh tumbuh dewasa, dari anak-anak yang polos hingga menjadi pejuang yang terluka. Bayaran emosionalnya terasa begitu mahal karena kita ikut tumbuh bersama mereka selama sepuluh tahun.
Laut adalah kesunyian yang abadi dalam Life of Pi. Pi Patel terdampar bersama seekor harimau Bengal di tengah Samudra Pasifik. Ang Lee menghadirkan lautan yang tidak hanya indah, tetapi juga mematikan. Harimau itu adalah pencapaian digital yang membuat kita lupa bahwa ia tidak pernah ada di atas perahu. Semuanya tampak seperti lukisan yang bergerak.
The Hobbit: The Desolation of Smaug sedikit lebih baik daripada bagian pertama. Bilbo dan para kurcaci terus bergerak menuju gunung yang jauh. Hutan Mirkwood hingga kota di atas danau memberikan nafas baru bagi petualangan ini. Karakter pendukung mulai memiliki wajah dan kepribadian yang terbaca. Bard, sang pahlawan yang enggan, membawa beban kemanusiaan ke dalam dongeng ini.
Vampir di Selandia Baru ternyata tidak selalu gothic atau menakutkan. What We Do in the Shadows adalah tontonan tentang kebodohan mereka dalam urusan rumah tangga. Mereka berdebat tentang siapa yang harus mencuci piring atau membayar sewa. Format dokumenter yang digunakan memberikan kesan jujur pada situasi yang konyol. Kita tertawa melihat makhluk abadi yang gagal beradaptasi dengan dunia modern.
Inside Out membawa kita masuk ke dalam kepala seorang gadis kecil. Kegembiraan, kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan rasa jijik saling berebut kendali. Pesan film ini tidak lurus: kesedihan adalah bagian yang perlu dirayakan. Film ini tidak mencoba menghibur anak-anak saja. Ia memaksa kita yang dewasa untuk menatap kembali kenangan masa kecil yang mulai memudar.
The Jungle Book membuktikan bahwa teknologi bisa menghidupkan hutan digital tanpa kehilangan jiwa. Setiap helai bulu hewan tampak nyata. Pemeran suaranya memberikan nyawa yang kuat pada karakter-karakter lama. Ia menyeimbangkan nostalgia dengan nada yang lebih dewasa. Kita tidak terjebak dalam lagu lama yang diulang. Ia menemukan jalan baru untuk berkisah.
The Shape of Water bercerita tentang cinta yang tidak lazim di masa Perang Dingin. Elisa, sang bisu, menemukan makhluk asing di laboratorium pemerintah. Desain produksinya memperlihatkan kontras yang tajam antara apartemen Elisa yang hangat dengan gedung laboratorium yang dingin dan menekan. Ini adalah surat cinta bagi sinema klasik. Del Toro mencampur fantasi, romansa, dan ketegangan tanpa terlihat janggal.
Anjing-anjing di Jepang masa depan diasingkan ke pulau sampah dalam Isle of Dogs. Wes Anderson menunjukkan ketelitian gila dalam setiap bingkai. Bulu anjing bergerak alami tertiup angin dalam teknik stop-motion. Ia memainkan bahasa dengan cerdik. Anjing berbahasa Inggris, sementara manusia berbahasa Jepang tanpa terjemahan. Penonton dipaksa melihat dunia dari sudut pandang anjing.
The Lighthouse menutup dekade dengan kegilaan yang murni. Dua penjaga mercusuar terjebak di pulau terpencil. Realitas mulai retak di bawah tekanan isolasi dan mitos maritim. Robert Pattinson dan Willem Dafoe beradu akting dalam dunia hitam putih yang mencekam. Hubungan mereka berubah dari kerja sama menjadi saling benci. Kita melihat akal sehat perlahan runtuh di sana. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada dua orang yang kehilangan arah di tengah laut yang dingin.