Masa kedaluwarsa hukum telah lewat. Lee Du Seok memanfaatkan celah itu. Ia menerbitkan sebuah otobiografi berjudul I’m a Killer. Buku itu memuat detail pembunuhan yang ia lakukan dengan sadis. Detektif Choi, yang memburu jejak darah Lee lima belas tahun silam, kembali bergerak. Han Ji Su, seorang ibu yang kehilangan putrinya di tangan Lee, bersumpah menghunuskan dendam.
Saya menggandrungi cerita kriminal. Film ini membuat saya antusias. Penataannya rapi. Alur plotnya tertata dengan cermat. Saya merasakan ikatan emosional yang kuat dengan karakter detektif. Sang aktor memberikan napas pada kepribadian tokoh itu. Perjalanan jiwanya menyedot perhatian saya lebih besar daripada teka-teki pembunuhan itu sendiri.
Film ini menyodorkan pertanyaan yang menampar muka. Hukum sering kali memberi celah bagi penjahat untuk melenggang bebas karena batas waktu. Kita dipaksa berkaca pada persepsi kita sendiri tentang keindahan. Ketampanan fisik Lee Du Seok mempengaruhi opini publik. Kita memberi ampun pada wajah yang rupawan. Karakter yang dimainkan Park Si Hoo menyoroti kecacatan moral masyarakat yang memuja rupa.
Saya sudah terlalu sering menelan kisah misteri. Akhir cerita film ini terasa hambar. Plot kejutannya mudah ditebak. Saya mengharapkan sesuatu yang lebih bernuansa. Ketegangan yang begitu pekat di babak pertama menguap begitu saja saat babak kedua dimulai. Saya ingin terus terpaku pada layar, tapi film ini gagal menjaga intensitasnya.
Meskipun penyelesaiannya mengecewakan, saya tidak berpaling. Daya pikatnya cukup kuat untuk menahan saya tetap di kursi hingga detik terakhir. Bagi pencinta misteri yang haus akan teka-teki, film ini akan memberi peringatan dini. Jangan berharap terlalu banyak pada babak penutup. Mereka yang mendambakan kepuasan paripurna dari sebuah misteri mungkin akan merasakan kekosongan setelah film berakhir.