Di Stadio Giuseppe Meazza, Milano, suatu sore di bulan April 2011, udara terasa lain. Menjelang laga Inter melawan Lazio di pengujung musim Serie A, suasana di tribun membuncah bukan oleh perseteruan, melainkan oleh sebuah ritus. Puluhan flare biru langit menyala di Curva Nord, diikuti gemuruh ribuan suara yang menyerukan: “A Roma Ce Solo Lazio“, di kota Roma hanya ada Lazio.
Bagi yang menyaksikannya dari layar kaca, mungkin akan mengira itu adalah ulah suporter tim tamu. Keliru. Nyala biru itu datang dari tangan para Interisti, dari Boys SAN dan kelompok ultras lainnya, sebagai bentuk sambutan hangat. Baru setelahnya, dari sisi tribun yang dihuni pendukung Lazio, flare biru gelap, warna kebesaran Inter, menyala, dibalas dengan teriakan “Forza Inter Ale.“
Itulah gemellaggio, sebuah ikatan persaudaraan yang telah terjalin lebih dari satu dekade antara dua kelompok ultras ini. Di Stadio Olimpico, ritual itu berulang dengan skenario sebaliknya. Mengapa mereka bersahabat? Apakah karena kesamaan mendiami tribun utara atau Curva Nord? Meski itu bagian dari alasan, akarnya jauh lebih dalam, terkubur dalam sejarah yang berkelindan sejak kedua klub itu lahir.
SS Lazio berdiri pada tahun 1900, didirikan oleh kalangan politisi dan pengusaha berhaluan kanan yang anti-Yahudi, berbasis dukungan dari kelas menengah ke atas Roma. Inter, yang lahir dari rahim perpecahan dengan AC Milan pada 1908, memiliki akar ideologis yang serupa. Ketika Benito Mussolini berkuasa dan memerintahkan penggabungan klub-klub di Roma menjadi AS Roma pada 1927, hanya Lazio yang dengan keras menolak. Inter pun menempuh jalan yang sama, menentang kebijakan sang diktator dengan berganti nama menjadi Ambrosiana Milano.

Di sinilah garis sejarah ditarik. AS Roma dan AC Milan, di sisi lain, sering diasosiasikan dengan basis pendukung kelas buruh atau kelompok masyarakat Yahudi pada masa itu. Lokasi tribun yang sama di Curva Nord bagi Lazio dan Inter, serta di Curva Sud bagi AS Roma dan AC Milan, seolah mengunci takdir mereka dalam barisan yang berseberangan. Persaingan di Roma menjadi sangat panas—bahkan acapkali disebut sebagai derby paling bengis di Eropa, melebihi tensi di Manchester atau Madrid—karena Lazio merasa sebagai yang pertama di kota itu, sementara Roma merasa sebagai satu-satunya representasi ibu kota.
Persahabatan Lazio dan Inter bukan sekadar retorika. Tak pernah ada catatan insiden berarti di antara mereka. Ikatan formal itu menguat saat final Piala UEFA 1998 di Paris. Sikap ksatria Irriducibili, kelompok ultras Lazio, dan Boys SAN Inter di lapangan membuat keduanya diganjar penghargaan fair play dari UEFA, sekaligus mengukuhkan persaudaraan mereka.

Sejarah mencatat peristiwa-peristiwa yang nyaris surealis karena ikatan ini. Pada Mei 2002, misalnya. Inter berada di ambang scudetto dan hanya butuh kemenangan atas Lazio di hari terakhir musim. Pendukung Lazio di Olimpico justru mendukung Inter habis-habisan, bahkan secara terbuka meminta tim kesayangan mereka untuk kalah. Mereka lebih rela melihat Inter juara daripada musuh bebuyutan mereka, Juventus. Meski malam itu Inter justru kalah 2-4 dan gagal meraih gelar, tindakan para Laziali itu adalah bukti betapa solidaritas sering kali diletakkan di atas hitungan skor sepak bola.
Atau ingatlah November 2007, saat Gabriele Sandri, seorang DJ dan ultras Lazio, tewas tertembak dalam kerusuhan. Interisti menunjukkan dukacita dengan aksi yang mengharukan: mengheningkan cipta selama lima menit di Giuseppe Meazza. Malam itu, di tribun pendukung Inter, tidak ada spanduk yang berkibar, tidak ada flare yang menyala. Hanya ada satu spanduk besar bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami.”
Puncak dari kegilaan persaudaraan ini mungkin terjadi pada Mei 2010. Inter butuh kemenangan untuk mengunci scudetto dan mengungguli AS Roma di puncak klasemen. Di Olimpico, pendukung Lazio justru meneriakkan “Biarkan mereka lewat!” saat pemain Inter menguasai bola. Mereka rela timnya kalah dan terancam degradasi asal AS Roma gagal juara. Ketika Walter Samuel mencetak gol untuk Inter, stadion bergemuruh dengan spanduk-spanduk ejekan Laziali yang ditujukan kepada Roma. Peristiwa ini bahkan memicu amarah besar dari Presiden Lazio, Claudio Lotito, yang sampai mencabut pengistirahatan nomor punggung 12, nomor yang dulunya didedikasikan untuk ultras mereka.

Di Italia, sejarah telah menempatkan AS Roma, Milan, dan Juventus sebagai rival bersama bagi Lazio dan Inter. Namun, ironisnya, di Indonesia kita sering melihat pemandangan yang berbeda. Laziali dan Interisti justru kerap terjebak dalam perdebatan tak perlu di dunia maya. Bahkan ada keanehan di mana Milanisti dan Juventini cenderung bersahabat di sini, padahal di Italia, keduanya adalah musuh bebuyutan. Mungkin inilah saatnya kita belajar bahwa sepak bola, lebih dari sekadar pertempuran 90 menit di atas rumput, adalah juga tentang ingatan, solidaritas, dan cara memilih kawan dalam perjalanan panjang sebuah kesetiaan.