Mutiaraku
kau mutiaraku, seperti seringai langit yang terik beringas mencari bening dalam gelap jiwa terlelap malam bukan tak syahdu pun bintang memendar tapi kau mutiaraku, seperti kosong mengoyak hampa hening dalam bening seringai beringas ……
Fragments of Memory
kau mutiaraku, seperti seringai langit yang terik beringas mencari bening dalam gelap jiwa terlelap malam bukan tak syahdu pun bintang memendar tapi kau mutiaraku, seperti kosong mengoyak hampa hening dalam bening seringai beringas ……
Di tepian Sungai Cempaka, Andina membiarkan kuasnya menari di atas kertas sketsa. Siang itu, aroma tanah basah dan desah angin di antara pucuk-pucuk bambu membisikkan sesuatu yang halus, sesuatu yang tidak bisa diberi nama.…
Kala ku bersetubuh dengan waktu, Hanya lelah Bersimbah rasa menelan bermega sukma Bahwa, Pelangi kita sebatas cakrawala Sedangkan aku terlanjur mencintai kebiruannya Seperti langit, Atap yang tiada terjamah Terlalu biru, Kebiruan yang menenggelamkan pandangku…
Kasih, Apakah semak terasa sesak untuk disibak dan onak makin membercak bila terinjak? Pun duri akan meradang nyeri bila menyentuh pori-pori? Bila begitu, Jalan pulang masih dekat terlihat Kasih, Telahkah gelombang membuat pasakmu gamang,…
Kuntum mawar tergeletak di koridor ini tepat sedetik setelah tetes malam melumuri waktu Namun adakah malam memeram harapan serupa kebun bagi mekarnya kuntum di hatimu atau, biarlah harapan kita layu bersama kuntum mawar tergeletak…
Mengenalmu, berarti terhenyak Menjabat tanganmu, mengingatkan daku pada angin Lembut bertiup di kedalaman jiwa Untukmu saja, kata ini menjelma puisi, menjelma badik, tetap berkilat, menerangi juluran tahun tak berhingga takdir kasih kita