Dari awal mendengar Zankore AI Factory akan berdiri di Batang, pikiran saya langsung melompat ke air, bukan ke AI.
Proyek Indosat Ooredoo Hutchison bersama Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA ini disebut-sebut sebagai pusat AI terbesar se-ASEAN, bahkan digadang-gadang terbesar di Asia. Pemerintah memandangnya sebagai salah satu upaya Indonesia menjadi hub AI regional. Targetnya kapasitas 1 gigawatt, dibangun bertahap. Tahap awal sekitar 200 megawatt, dan konstruksi dijadwalkan mulai di Batang, Jawa Tengah, pada paruh pertama 2027. Gigawatt, hub regional, bla, bla, bla. Angka-angkanya memang spektakuler. Tapi satu angka tidak terdengar: berapa liter air yang diminum.
Pusat data seperti ini rakus listrik, dan ia juga haus. Coba anda buka chatbot, ketik apa saja. Di sebuah pusat data, ribuan chip langsung bekerja dan melepaskan panas tinggi. Panas itu dibuang dengan menguapkan air di menara pendingin (tower), jadi chip-nya harus “minum” supaya tidak kepanasan. Air juga dipakai untuk keperluan lain, misalnya di pembangkit listrik yang mengirim arus ke server. Tim peneliti University of California, Amerika Serikat (2025), menghitung kedua jalur pemakaian ini dan mencatat bahwa jejak air (water footprint) AI jarang dibuka ke publik. Jangan lagi membayangkan data tersimpan di cloud, seakan melayang tanpa bobot seperti roh gentayangan. Ternyata cloud punya alamat, dan kali ini alamatnya di Batang.
Hitungan para peneliti bertolak dari proyeksi Microsoft untuk lokasi pusat data AI di berbagai negara, dan Indonesia keluar sebagai negara paling boros air pendingin: 1,9 liter untuk setiap kilowatt-jam (kwh) listrik yang dipakai server. Salahkan iklim. Udara kita lembap, air susah menguap, jadi pendingin terpaksa menguapkan lebih banyak air untuk membuang panas yang sama.
Pakai angka Microsoft tadi untuk Zankore, dan tahap pertamanya menguapkan 4,8 sampai 9,1 juta liter air per hari. Angka terendah sudah memperhitungkan daya untuk kebutuhan non-server. Angka tertinggi menjumlahkan pendingin dan server, dengan asumsi seluruh 200 megawatt menyala terus-menerus. Ini baru perkiraan dari proyeksi, jadi angka pastinya dapat bergeser. Tapi ordenya tetap jutaan liter per hari.
Lalu bagaimana kondisi Batang sebenarnya? Dari 5 Juni sampai 28 September 2026, Jawa Tengah berstatus siaga kekeringan. Dampaknya menimpa 2,34 juta jiwa di 784 desa, termasuk Batang. Pemerintah provinsi menyiapkan 75,46 juta liter air bersih untuk mereka semua.
Hitung sendiri. Dengan kebutuhan 4,8 sampai 9,1 juta liter per hari, Zankore menghabiskan air sebanyak seluruh bantuan Jawa Tengah untuk sebulan penuh dalam 8 sampai 16 hari. Kebutuhan air rakyat dalam sebulan, ditenggak habis oleh AI cuma dalam waktu 2 minggu-an. Kalau kapasitasnya sudah 1 gigawatt, lebih gila lagi, cukup 2 sampai 3 hari.
Jadi, pemerintah mau menjamin air untuk server dan untuk warga sekaligus, di daerah yang airnya sudah dijatah lewat bantuan? Caranya bagaimana?
Soal cara pendinginan, Zankore belum mau bilang. Chip NVIDIA yang dipakai menggunakan menara pendingin evaporasi, dengan panas dibuang ke luar gedung. Ada opsi lain, pendinginan kering dari air laut. Air bersih terhemat, tapi ekosistem laut yang menanggung akibatnya. Pilih mana? Sampai tulisan ini dibuat, belum ada pengumuman.
Soal uang, saya akui hitungannya menggiurkan. Investasi Zankore sekitar Rp82 triliun, melampaui target lima tahun investasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang sebesar Rp75,8 triliun. Di atas kertas, Batang dan Jawa Tengah untung besar. Logikanya betul. Tapi untungnya sampai ke tangan siapa, ya?
Pemerintah bahkan sudah menjamin ketersediaan air untuk kawasan industri Batang, termasuk Zankore, dengan membangun infrastruktur air baku senilai Rp409,7 miliar dari APBN. Kapasitasnya 285 liter per detik, atau sekitar 24,5 juta liter per hari. Kalau Zankore mengambil air dari sana untuk menara pendinginnya, tahap pertama saja menyedot lebih dari 30% kapasitas. Pada skala 1 gigawatt, kebutuhannya melampaui seluruh kapasitas yang ada. Kalau jadinya begitu, APBN yang membangun saluran, server yang minum.
Lalu warga dapat apa? Pusat data padat modal, bukan padat karya. Penelitian (2026) yang mengompilasi manfaat ribuan pusat data di Amerika Serikat mendapati fasilitas semacam ini biasanya menyerap kurang dari 100 pekerja tetap. Seratus orang. Untuk investasi puluhan triliun. Manfaat ekonominya hampir seluruhnya dinikmati orang kota, sedangkan di wilayah setempat nyaris tidak ada.
Aliran keuntungannya juga perlu dilihat. Menurut catatan analis pasar modal, saham Zankore dimiliki Ooredoo 49%, Indosat 37%, NVIDIA 11%, dan Nokia 3%. Artinya 63% saham dipegang perusahaan dari Qatar, Amerika Serikat, dan Finlandia. Chip dan perangkatnya diimpor pula, sehingga sebagian besar belanja modal malah berubah menjadi pendapatan pabrik di luar negeri, bukan dalam negeri.
Dalam ilmu ekonomi, pola begini namanya eksternalitas negatif. Untung masuk ke pemegang saham, sebagian ongkos air ditinggal di Batang. Kontraknya? Warga Batang tidak pernah meneken apa-apa dengan siapa pun.
Operator pabrik AI tidak boleh membiarkan server mati, apa pun yang terjadi. Menjamin segala kebutuhan bisnis jumbo ini, termasuk air, sudah menjadi tugas pemerintah. Masalahnya, tanah tempat pabrik itu berdiri semakin amblas.
Badan Geologi dan Institut Teknologi Bandung (ITB) mencatat laju penurunan tanah 6 sampai 20 cm per tahun di Pekalongan-Batang. Lapisan tanah yang sudah memadat tidak sanggup menampung air sebanyak dulu, sementara air laut merembes masuk dan menggenangi rumah warga. Kerusakan semacam ini hampir tidak dapat dipulihkan. Gelombang bedol desa, ketika penduduk meninggalkan kampung yang tergenang, sulit dihindari.
Jalan keluarnya sederhana. Pemerintah harus tegas meminta Zankore membuka data kebutuhan airnya, supaya pengelolaan air yang berkeadilan dapat direncanakan sebelum krisis melanda. Otoritas juga wajib memastikan Zankore memilih teknologi yang lebih hemat air dan listrik. Sistem pengendalian risiko yang ketat sebenarnya melindungi operator sendiri (server tidak dapat menyala di atas tanah yang amblas dan di tengah cekungan yang kering). Kalau airnya habis, semua pihak kalah bersama. Kalau terjaga, semua bertahan bersama.
Langkah yang sama semestinya berlaku untuk proyek lain. Pusat data di Jatiluhur, Jawa Barat, juga sudah menuai polemik.
Air sudah pasti menguap. Tinggal dilihat janji siapa yang menyusul.