Keringat dingin membasahi kemeja kusam seorang manajer bank tabungan kecil. Di mata rekan kerja, pria bernama Kim cuma ayah tunggal biasa yang sibuk memikirkan uang sekolah anak perempuannya, Min Ji. Bau kertas uang lusuh serta denting mesin penghitung nominal menutupi bau mesiu yang melekat di ingatan masa lalu. Kim menyimpan rahasia berdarah sebagai mantan agen rahasia operasi khusus pencabut nyawa. Namanya menduduki urutan teratas daftar buronan Korea Utara, menjelma bom waktu hidup di tengah keramaian Kota Seoul. Kehidupan tenangnya hancur berantakan sewaktu Min Ji mendadak hilang tanpa jejak dari sudut jalan. Naluri pembunuh yang terpendam belasan tahun mendadak meledak, memaksa pria tersebut membongkar topeng warga negara teladan demi membantai siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Premis gembos berbalut formula aksi ala Die Hard semacam ini sejak awal kelihatan konyol, kendati lontaran kejutan di dalamnya sempat menyajikan hiburan pemuas adrenalin.
So Ji Sub tampil pas mendekap peran mantan spionase berdarah dingin yang bertransformasi menjadi bapak pelindung. Urat-urat leher yang menegang, gemertak gigi sewaktu menahan nyeri luka tembak, hingga sorot mata dingin sang aktor menyuntikkan nyawa pada adegan baku hantam. Choi Dae Hoon bersama Yoon Kyung Ho memberi imbangan komedi lezat lewat celetukan spontan, menghalau narasi agar tidak jatuh menjadi drama melankolis yang hambar. Penonton diajak menikmati ayunan tinju di lorong sempit, dentuman ledakan mobil, hingga daya tahan fisik karakter utama yang ajaib ala pahlawan komik.
Sayangnya, departemen penulis naskah mendadak pingsan di tengah jalan.
Penggambaran lembaga intelijen rahasia dalam serial ini terasa bodoh dan wagu. Klise penculikan ala film Hollywood yang awalnya menyenangkan berubah menjadi parade kekacauan yang melelahkan menjelang episode akhir. Penulis naskah seperti tidak tahu kapan harus berhenti menggelar jualan, terus memaksakan rentetan ledakan konyol sampai cerita kehilangan pijakan realita. Wahana permainan berkecepatan tinggi yang ditumpangi penonton terlempar begitu saja ke tepi tebing curam karena sang sutradara lupa memasang rem. Ambisi berlebihan untuk menumpuk kegilaan justru membunuh kesenangan yang sudah susah payah dibangun pada paruh pertama tayangan.