Cerita tentang anak-anak yang tiba-tiba bicara tentang masa lalu selalu punya cara untuk menusuk logika kita. Kita duduk di kursi empuk, menyeruput kopi, lalu membaca narasi tentang jiwa yang berpindah tubuh. Dunia akademis tidak diam saja. Universitas Virginia menghabiskan setengah abad mengumpulkan ribuan kisah semacam ini. Ian Stevenson, psikiater yang mendirikan Divisi Studi Perseptual, menimbun puluhan ribu halaman dokumen demi membedah misteri ini. Kita semua bertanya tentang apa yang menunggu di ujung maut. Jiwa yang melampaui raga atau sekadar gema memori yang terdistorsi?
James Leininger baru berusia dua puluh dua bulan saat ayahnya membawanya ke museum penerbangan dekat Dallas. Anak itu terpaku menatap pesawat Perang Dunia II. Tak lama kemudian, dia mulai membanting mainan pesawat ke meja sambil berteriak tentang kecelakaan yang terbakar. Malam-malamnya menjadi mimpi buruk. Anak kecil itu terjebak di dalam kokpit, tidak bisa keluar. Dia menyebut nama kapal induk Natoma. Orang tuanya melacak catatan sejarah dan menemukan kapal bernama Natoma Bay memang beroperasi di Pasifik. Lebih mengejutkan lagi, seorang pilot bernama James Huston tewas dalam pertempuran Iwo Jima. Apakah James adalah reinkarnasi pilot yang terbakar itu?
Shanti Devi lahir di Delhi tahun 1926. Usia empat tahun dia sudah bicara lancar dengan dialek asing. Dia berkisah tentang seorang suami pemilik toko kain, lengkap dengan detail perabotan rumah tangga mereka. Shanti bahkan membeberkan detail operasi caesar yang dialami tubuhnya terdahulu. Mahatma Gandhi sampai turun tangan membentuk komite penyelidikan. Mereka membawa bocah itu ke kota asal sang suami. Shanti mengenali kerabat yang belum pernah dia temui sebelumnya. Komite menyimpulkan dia adalah Lugdi Chaubey yang tewas pasca melahirkan tahun 1925. Shanti memilih tidak pernah menikah dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai pengajar spiritual.
Dorothy Eady jatuh menuruni tangga saat balita. Kepalanya terbentur keras. Sejak saat itu, aksen bicaranya berubah total. Dia terus merengek minta pulang ke rumah yang bukan rumah orang tuanya. Saat melihat pameran Mesir kuno, dia berteriak lantang bahwa itu adalah rumahnya. Dorothy bersikeras pernah menjadi kekasih firaun Seti I. Dia dikirim ke rumah sakit jiwa oleh orang tuanya yang ketakutan. Meski begitu, Dorothy tetap teguh pada keyakinannya. Dia pindah ke Kairo dan bekerja di Abydos. Para ahli egiptologi tertegun melihat dia mampu menunjukkan letak mural tersembunyi yang bahkan belum diketahui publik. Dia meninggal di Mesir tahun 1981 dan dimakamkan secara anonim.
Ryan Hammond membawa cerita Hollywood ke dalam rumahnya pada tahun 2015. Bocah lima tahun ini mengaku pernah menjadi agen bakat. Dia sering berteriak tentang syuting film. Suatu ketika, Ryan menunjuk foto Marty Martyn dalam buku sejarah Hollywood. “Itu aku,” ucapnya dengan yakin. Dia bercerita detail tentang hidup mewah di New York dan rasa sakit saat ditinju pengawal Marilyn Monroe. Dr. Jim Tucker, seorang psikiater anak, memeriksa kasus ini dan menyatakan keyakinannya pada kejujuran Ryan. Setelah bertemu putri dari Marty Martyn, minat Ryan terhadap dunia film memudar. Dia seolah sadar tidak ada lagi yang menunggunya di masa lalu.
Uttara Huddar tumbuh normal di Maharashtra sampai usia tiga puluh dua tahun. Dia sudah memegang gelar doktor biologi sebelum tiba-tiba fasih berbahasa Bengali. Dia mengaku sebagai Sharada Chattopadhyay, wanita yang hidup seabad sebelumnya. Uttara kehilangan ingatan tentang orang tuanya. Dia berperilaku persis seperti wanita dari masa lalu tersebut. Dia merinci silsilah keluarga Sharada dan ingat cara kematiannya. Seekor kobra menggigit jempol kakinya. Ibu Uttara teringat mimpi yang sama tentang gigitan ular saat sedang mengandung Uttara dulu.
Keluarga Pollock kehilangan dua anak perempuan dalam kecelakaan maut tahun 1957. Ayah mereka, John, meyakini anak-anaknya akan terlahir kembali. Florence, istrinya, melahirkan anak kembar, Jennifer dan Gillian. Salah satu dari mereka memiliki tanda lahir persis di tempat yang sama dengan mendiang Jacqueline. Keluarga ini pindah kota, namun saat kembali ke lingkungan lama, si kembar mengenali detail tempat yang belum pernah mereka kunjungi. Mereka menyebut nama mainan kakak-kakak mereka yang sudah tiada. Gillian bahkan pernah berbisik pada saudara kembarnya tentang darah yang mengalir dari mata saat kecelakaan terjadi. Ingatan itu memudar seiring usia, meninggalkan tanya yang tidak pernah terjawab.
Seorang bocah Druze di Golan Heights membuat pengakuan yang lebih kelam. Dia mengklaim pernah tewas karena tebasan kapak. Di kepalanya terdapat tanda lahir merah yang mencolok. Anak itu memandu tetua desa menuju sebuah lokasi pemakaman di mana mereka menemukan tengkorak dengan retakan presisi akibat kapak. Pelaku yang dituduh sang bocah akhirnya mengaku bersalah. Di tanah tempat tinggal mereka, kepercayaan tentang jiwa yang berpindah tubuh ke sesama penganut Druze bukan sekadar dongeng sebelum tidur. Kasus ini tercatat rapi, dingin, dan menuntut kita menimbang ulang apa yang kita ketahui tentang kematian.