Sepasang suami istri hidup menua bersama selama enam dekade. Mereka berbagi piring, ranjang, dan rahasia, kecuali satu ganjalan kecil yang tersimpan di lemari. Istrinya menyimpan sebuah kotak sepatu. Dia melarang keras suaminya menyentuh benda “terkutuk” itu.
Lelaki itu patuh. Bertahun-tahun dia menahan rasa penasaran yang menggerogoti.
Hari tua datang membawa derita. Sang istri terbaring lemah. Dia merasa maut sudah dekat dan tidak ingin membawa beban rahasia ke liang lahat. Dia meminta suaminya mengambil kotak itu.
Tangan lelaki itu gemetar saat membuka tutup kartonnya.
Di dalamnya, terselip dua boneka rajut yang lusuh dan setumpuk uang kertas senilai sepuluh juta rupiah. Dia tertegun. Mengapa ada boneka di sini? Dari mana datangnya uang sebanyak ini?
Istrinya memberikan penjelasan dengan suara serak. Sebelum pernikahan mereka puluhan tahun silam, neneknya membisikkan resep rahasia rumah tangga yang awet. Caranya sederhana. Setiap kali dia merasa marah terhadap suaminya, dia harus diam seribu bahasa. Dia tidak boleh mengomel. Sebagai gantinya, dia harus merajut sebuah boneka.
Lelaki itu tersenyum lebar. Dia merasa seperti pria paling beruntung di muka bumi. Selama enam puluh tahun pernikahan, istrinya hanya marah dua kali. Hanya dua kali dia tidak mampu menahan emosi. Hatinya penuh oleh rasa syukur dan kelegaan yang luar biasa.
Lantas dia bertanya soal tumpukan uang itu.
Istrinya tersenyum tipis. Uang itu adalah hasil penjualan boneka rajutnya.