Kisah Sukses Orang-Orang Bodoh, Cacat, dan Gagal Berkali-kali

1. Adam Khoo

Adam Khoo kecil adalah potret kesia-siaan masa muda yang lazim kita temui di ruang tamu. Layar televisi menjadi candu, jempolnya kapalan menekan tombol konsol gim tanpa henti. Dia tidak peduli pada buku, rumus matematika, atau masa depan yang mendadak terasa jauh. Baginya, petualangan nyata berhenti di balik kaca monitor.

Sekolah menganggapnya sampah.

Kelas empat sekolah dasar menjadi babak pertama pembuangannya. Dia didepak keluar. Nasibnya terdampar di sekolah paling buruk di Singapura, tempat anak-anak yang dianggap gagal oleh sistem menumpuk. Pintu-pintu sekolah unggulan tertutup rapat baginya. Enam kali dia mencoba mendaftar ke sekolah menengah, enam kali pula dia ditolak dengan dingin.

Akhirnya, dia mendarat di sekolah menengah dengan reputasi paling busuk.

Cemoohan menjadi makanan sehari-hari. Teman-temannya menertawakan ketololannya, menunjuk hidungnya setiap kali nilai ujiannya merah. Rasa malu rupanya menjadi cambuk yang paling mujarab. Dia mulai melawan nasib, tidak dengan amarah, melainkan dengan membalikkan keadaan. Dia memeras otaknya sendiri hingga prestasinya merangkak naik dari dasar jurang.

Dendam kesumat terhadap kegagalan berubah menjadi mesin uang.

Pada umur lima belas tahun, dia berdagang kotak musik. Recehan demi recehan dikumpulkan. Bisnisnya meluas, menjamah dunia seminar dan pelatihan. Saat menginjak usia dua puluh dua, gelar pelatih tingkat nasional menempel di pundaknya. Para manajer dan pimpinan perusahaan besar Singapura mengantre untuk mendengar suaranya. Mereka rela membayar sepuluh ribu dolar Amerika untuk satu jam saja.

Empat tahun berlalu, dia merajai pasar.

Pundi-pundi uangnya menggelembung hingga omzet dua puluh juta dolar setiap tahun. Dia tidak lagi memegang stik gim. Dia memegang kendali bisnis yang dia bangun dari abu kegagalan masa kecilnya sendiri. Di mata banyak orang, dia adalah pahlawan yang bangkit dari lumpur. Bagi dirinya sendiri, dia hanyalah anak yang bosan dihina.

2. Albert Enstein

Dunia memuja nama Albert Einstein dengan rasa takzim yang berlebihan. Orang-orang membayangkan wajahnya yang kusut masai, rambut putih berantakan, serta mata yang seolah menembus rahasia terdalam jagat raya. Mereka menaruh potretnya di dinding ruang kelas sebagai lambang kecerdasan tertinggi. Manusia cenderung lupa pada kenyataan pahit yang mengiringi masa kecilnya.

Dia terlambat bicara.

Mulutnya terkunci rapat saat anak seusianya mulai berceloteh. Orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan tatapan meremehkan. Mereka menjulukinya aneh. Dia mengidap autisme, sebuah kondisi yang membuat otaknya bekerja dengan frekuensi yang tidak dipahami oleh guru-guru kaku di sekolah. Pelajaran di kelas baginya hanyalah kebisingan yang mengganggu konsentrasi pikirannya sendiri.

Guru-gurunya seringkali kesal.

Mereka menganggapnya lalai. Einstein tidak peduli pada hafalan membosankan atau urutan angka yang tidak memiliki arti bagi imajinasinya. Dia lebih memilih mengembara dalam labirin pikiran yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Penderitaan dan pengucilan menjadi bumbu masa pertumbuhannya.

Dia membuktikan bahwa sistem pendidikan yang menghamba pada keseragaman seringkali gagal melihat genius di balik kebisuan. Orang-orang terpesona pada Nobel yang dia raih, tetapi mereka abai pada bocah yang sempat dianggap gagal bicara dan tidak berguna bagi dunia. Sejarah selalu gemar menceritakan kemenangan, tetapi seringkali lupa pada kesepian yang membentuknya.

3. Aristotle Onassis

Bangku sekolah bagi Aristotle Onassis bukanlah tempat menuntut ilmu. Ruangan itu penjara yang pengap, penuh guru-guru kaku yang memaksanya menghafal deretan angka tanpa guna. Dia memilih jadi pemberontak, memancing keributan, dan menyerap segala perilaku angkuh orang kaya yang memuakkan.

Sekolah-sekolah mengusirnya.

Pintu gerbang sekolah tertutup rapat di depan hidungnya, satu demi satu. Dia menyambut pengusiran itu dengan tawa meremehkan. Nilai-nilainya selalu membusuk di barisan terbawah, menempati urutan yang dianggap paling memalukan bagi anak-anak sebaya.

Teman-temannya di kelas justru mengelu-elukannya. Dia jadi raja kecil di antara kawan yang haus kegilaan, sementara para guru dan keluarganya menangis putus asa menatap masa depannya yang suram.

Mereka melihat api dalam dirinya.

Seseorang bisa meramal nasibnya saat itu juga. Dia berada di persimpangan jalan yang curam. Dia akan terjun ke dalam kehancuran total atau meledak menjadi kesuksesan yang membutakan mata. Raport sekolahnya memang sampah, penuh catatan merah yang mencoreng muka orang tuanya.

Otaknya bekerja dengan frekuensi berbeda.

Dia tidak mencari nilai di atas kertas ujian. Dia mencari peluang di pasar, menimbang laba, dan memahami aliran uang. Bakat berdagangnya tumbuh lebih cepat daripada kecakapan menghafal buku teks. Dia tidak pernah menyesali kebodohannya di kelas.

Pada akhirnya, dia memahat namanya sendiri dalam daftar milyuner. Dia mengalahkan sistem pendidikan yang gagal memahami bahwa angka di atas kertas tidak menentukan isi kepala seseorang.

4. Thomas Alva Edison

Surat itu dititipkan di tangan bocah berumur empat tahun. Kertas usang berisi vonis mati bagi masa depan seorang anak yang pendengarannya terganggu. Guru di sekolah mencapnya bodoh, tidak layak duduk di bangku kayu bersama murid lain, dan menuntut sang ibu segera menariknya pulang.

Nancy Edison membaca deretan huruf di kertas tersebut. Dia tidak menangis. Dia tidak pula menyalahkan nasib yang memberi putranya telinga yang tidak sempurna.

“Tommy bukan anak bodoh,” ucapnya mantap.

Kalimat itu menjadi pemisah antara bocah yang akan terbuang ke pinggiran kehidupan dengan seseorang yang kelak menerangi dunia. Nancy mengambil alih peran sekolah. Dia mendidik sendiri anaknya di rumah, mengisi ruang-ruang kosong dalam kepala Tommy dengan rasa ingin tahu yang tidak dibatasi tembok kelas.

Tiga bulan. Hanya selama itu sekolah sempat mencicipi keberadaan Thomas Alva Edison.

Guru-guru yang kaku itu merasa lega melihatnya pergi, sementara dunia justru sedang kehilangan calon penemu terhebat yang pernah ada. Mereka yang gemar menghakimi kecerdasan orang lain lewat deretan angka di buku rapor, biasanya selalu buta akan percikan jenius yang bersembunyi di balik kekuranglengkapan fisik.

Bocah tuli itu tumbuh tanpa tekanan harus patuh pada kurikulum yang membosankan. Dia bereksperimen dengan dunianya sendiri. Dia mengotori tangannya dengan bahan kimia dan membedah rahasia mesin. Ibu adalah satu-satunya guru yang tidak menuntutnya menjadi sama dengan orang lain.

Banyak orang suka menyanjung keberhasilan Edison, tetapi mereka lupa menghina sistem sekolah yang dulu ingin menguburnya. Keberhasilan ini adalah tamparan telak bagi penguasa pendidikan yang gemar melabeli manusia dengan kata gagal. Nancy Edison membuktikan bahwa satu-satunya batas kecerdasan adalah ketidakmampuan orang dewasa dalam melihat potensi seorang anak.

5. Chris Gardner

Layar perak seringkali menjual mimpi tentang kemelaratan yang berakhir dengan kebahagiaan. Christopher Paul Gardner nyata adanya, bukan sekadar karakter yang diperankan aktor mahal di Hollywood. Nasib mencabik-cabiknya tanpa ampun. Atap rumah melayang pergi. Istri angkat kaki. Borgol polisi berkali-kali mencengkeram pergelangan tangannya. Hutang menumpuk, mengepung setiap sudut napasnya.

Dia tidak memegang ijazah tinggi di tangan.

Sistem seringkali menuntut kertas gelar sebagai syarat untuk dianggap manusia berharga. Gardner tidak punya semua itu. Dia menantang keadaan dengan modal nekat. Dia mendaki gunung kesulitan tanpa alas kaki.

Kini dia duduk di singgasana milyuner.

Gardner menjalankan perusahaan pialang saham miliknya sendiri. Perjalanan hidupnya mengubahnya menjadi motivator, pebisnis, dan dermawan yang kenyang asam garam dunia. Uang bukan lagi masalah baginya, tetapi bekas luka dari masa lalu tetap menempel erat. Dia membuktikan bahwa mereka yang dianggap pecundang oleh sistem, justru seringkali memiliki daya tahan yang tidak dipahami oleh orang-orang berpendidikan tinggi dengan kursi empuk di kantor nyaman.

6. Ludwig Van Beethoven

Bayangkan seorang perempuan, napasnya memburu karena beban hidup yang tak henti menindih. Delapan anak telah lahir dari rahimnya. Tiga tuli, dua buta, satu lagi pikirannya terganggu. Tubuh perempuan itu sendiri terserang penyakit menjijikkan, sipilis. Di tengah kemelaratan, di dalam perutnya, janin kesembilan sedang tumbuh.

Banyak orang modern, dengan rasa kemanusiaan yang dingin, akan berteriak menyuruhnya membuang janin itu. Mereka akan berdebat tentang kualitas hidup, tentang penderitaan yang bakal menimpa, tentang beban ekonomi yang menghancurkan. Etika mereka bersih, rapi, dan mematikan.

Untungnya, mereka tidak berkuasa atas rahim perempuan itu.

Janin tersebut lahir. Namanya Ludwig van Beethoven.

Telinganya tidak luput dari takdir kelam yang menimpa saudara-saudaranya. Saat usianya beranjak dewasa, dunia suaranya mulai memudar, lenyap dimakan ketulian. Bayangkan rasa frustrasi seorang pemusik yang tidak lagi bisa mendengar nada buatannya sendiri. Namun, dia tidak berhenti. Dia justru memahat simfoni-simfoni yang melampaui zaman.

Sembilan simfoni agung lahir dari kepala seorang pria yang tidak mendengar apa-apa. Tiga puluh dua sonata piano, lima konser piano, deretan sonata biola, serta komposisi kuartet gesek yang membuat orang-orang berabad-abad kemudian tetap ternganga. Dia menciptakan keindahan dari kekosongan bunyi.

Orang-orang menyanjung namanya di gedung konser mewah, memahat patungnya dari marmer, dan menulis buku tentang kejeniusannya. Mereka melupakan bahwa semua karya besar itu nyaris tidak pernah ada jika seandainya sang ibu menyerah pada keputusasaan atau mendengarkan nasihat mereka yang sok tahu tentang kehidupan.

Kita sering merasa berhak menentukan siapa yang layak lahir dan siapa yang tidak. Kita sibuk merancang dunia yang sempurna tanpa menyadari bahwa seringkali, keajaiban justru muncul dari sisa-sisa yang kita anggap cacat. Beethoven adalah tamparan keras bagi setiap mulut yang dengan gampang memberi nilai atas nyawa manusia.

7. Louis Braille

Louis Braille kehilangan cahaya matanya saat masih berusia tiga tahun. Dia bermain dengan perkakas ayahnya, alat pembuat lubang yang tajam, lalu nahas menusuk matanya sendiri. Malapetaka tidak berhenti di sana. Infeksi merambat ke mata sebelah melalui jalur simpati yang kejam. Kegelapan total menyelimuti dunianya selamanya.

Banyak orang akan bersimpuh dalam ratapan.

Louis Braille tidak sudi mengurung diri dalam keluh kesah. Dia tetap tegak berdiri meski dunianya kini sebatas rabaan tangan. Dia merasa bosan dengan keterbatasan yang dipaksakan oleh orang-orang yang bisa melihat. Dia ingin menyentuh ilmu pengetahuan, dia ingin membaca kata-kata yang selama ini tersimpan rapat dalam lembaran kertas yang tak terjangkau.

Abjad baru lahir dari ujung jarinya.

Titik-titik timbul itu kini dikenal seluruh penjuru bumi sebagai abjad Braille. Temuan ini merobohkan tembok pembatas antara yang melihat dan mereka yang hidup dalam gulita. Seseorang yang sejak kecil kehilangan penglihatan justru memberikan mata bagi jutaan manusia lainnya. Kita sering memuja penemu besar dengan laboratorium canggih, namun lupa pada bocah yang dulu sekadar bermain dengan alat pertukangan ayahnya.

Sekarang semua orang mengenal namanya.

Abjad ciptaannya menjadi saksi bisu bahwa akal manusia tidak pernah tunduk pada kerusakan fisik. Louis Braille menulis ulang cara manusia berinteraksi dengan aksara. Dia tidak menanti belas kasihan. Dia justru memahat takdirnya sendiri dari kegelapan yang coba menguburnya.

8. Abraham Lincoln

Abraham Lincoln merangkai hidupnya dari serpihan kegagalan yang berserakan. Dia membuktikan bahwa jalan menuju puncak seringkali bukan berupa tangga yang mulus, melainkan tumpukan batu sandungan yang sengaja diletakkan oleh nasib. Tahun 1831, usaha dagangnya karam tanpa sisa. Setahun berselang, kursi legislatif menolaknya dengan kejam. Dia mencoba bangkit, namun tahun 1833 bisnisnya kembali hancur berkeping-keping. Patah semangat menghinggapinya pada 1836, seolah takdir sedang menguji seberapa dalam dia mampu menanggung lara sebelum akhirnya menyerah.

Tahun 1838 dia gagal di mimbar kontes bicara.

Dua tahun kemudian, Dewan Pemilih menutup pintu rapat bagi dirinya. Dia terus mencoba, terus mendobrak, hingga tahun 1843 kursi Kongres pun melayang dari genggamannya. Orang lain mungkin sudah berhenti di titik ini, membakar semua ambisi, lalu pulang ke desa untuk menanam jagung sampai mati. Lincoln tidak melakukan itu.

Tahun 1846 dia mencicipi sedikit manisnya kemenangan sebagai anggota Kongres.

Kemenangan itu ternyata hanya kilasan pendek. Tahun 1848, harapan untuk kembali ke sana musnah. Dia mencalonkan diri sebagai senator pada 1855, namun kekalahan kembali menyambut dengan tangan terbuka. 1856, ambisinya menjadi orang nomor satu di Amerika kandas di tengah jalan. 1858, lagi-lagi dia gagal duduk di kursi Senat. Hidupnya menjadi deretan penolakan yang panjang.

Tahun 1860, sejarah berbelok.

Dia melangkah masuk ke Gedung Putih sebagai presiden ke-16. Lincoln tidak menjadi besar karena dia tidak pernah gagal. Dia menjadi besar justru karena dia menolak untuk berhenti meski hidup terus-menerus menampar wajahnya dengan kegagalan demi kegagalan. Kini orang mengenangnya sebagai pemimpin yang mengubah jalannya sejarah bangsa, padahal dulu dia hanyalah seorang pria yang lebih sering kalah daripada menang.

9. Bill Gates

William Henry Gates III berdiri di puncak panggung dunia dengan senyum yang dipoles rapi. Namanya tercatat sebagai pendiri Microsoft, sebuah raksasa perangkat lunak yang merajai komputer di setiap meja kantor. Forbes menaruhnya di urutan teratas sebagai manusia dengan harta paling melimpah selama belasan tahun. Orang-orang melihatnya sebagai Dewa Teknologi yang membawa perubahan besar.

Mereka lupa riwayat kotor di balik jas mahalnya.

Dia meninggalkan bangku Harvard dengan status drop out. Keputusan yang bagi orang tua kelas menengah dianggap sebagai bunuh diri karier. Dia tidak langsung melompat ke kursi eksekutif. Sebelum dunia mengenalnya sebagai raja perangkat lunak, dia pernah menjalani pekerjaan rendah sebagai pesuruh kantor. Dia menyeduh kopi, menyapu debu, dan mengantar berkas-berkas milik orang lain.

Nasib memang suka melucu.

Pria yang sempat membersihkan lantai kantor kini memiliki kekayaan yang membuat negara kecil bisa iri hati. Dia tidak berhenti menumpuk uang. Dia menggeser ambisinya ke ranah filantropi melalui yayasan yang membawa namanya dan mantan istrinya. Orang-orang memujinya sebagai pahlawan kemanusiaan yang turun tangan membenahi kesehatan global.

Dia tetaplah Gates, pria yang tahu cara merayu nasib.

Apakah gelar sarjana menjadi penentu masa depan? Gates membuktikan bahwa ijazah hanyalah secarik kertas jika seseorang memiliki nyali untuk keluar dari jalur yang sudah digariskan. Dia memilih untuk tidak menyelesaikan kuliah, lalu malah membeli dunia dengan kode pemrograman. Banyak anak muda mencoba meniru jejaknya, berhenti kuliah, lalu berharap kekayaan jatuh dari langit. Mereka lupa satu hal. Gates bekerja sebagai pesuruh sebelum dia bisa memerintah dunia.

10. Mark Zuckerberg

Mark Zuckerberg memuncaki daftar miliarder termuda hasil kerja keras sendiri. Orang-orang gemar membicarakan kekayaannya, namun seringkali melupakan napak tilasnya yang bermula dari kamar asrama Harvard yang sumpek. Dia merancang situs jejaring sederhana untuk menyambungkan rekan mahasiswa. Tak disangka, antusiasme teman-temannya meluap tak terkendali.

Dia mengikuti jejak Bill Gates.

Dia meninggalkan kampus. Dia membuang jauh-jauh beban ijazah demi membesarkan Facebook yang saat itu masih merangkak. Keputusan itu terlihat gila bagi mereka yang menganggap kuliah adalah satu-satunya jalan menuju kemapanan. Dia bertaruh seluruh hidupnya pada barisan kode komputer.

Penawaran uang datang bertubi-tubi.

Friendster pernah mencoba meminangnya dengan sepuluh juta dolar. Uang sebanyak itu sanggup membuat anak muda mana pun kehilangan akal sehat dan langsung menjual mimpi mereka. Mark menolaknya dengan dingin. Dia menutup mata. Dia menutup telinga.

Viacom kemudian datang membawa tawaran tujuh ratus lima puluh juta dolar. Angka yang sanggup membeli puluhan kehidupan mewah tanpa sisa. Mark tidak bergeming. Dia menolak dengan keteguhan yang membuat banyak orang menganggapnya sinting.

Yahoo mengajukan tawaran terakhir yang paling mencengangkan. Satu miliar dolar. Nominal yang sanggup membuat siapapun bersujud di depan kakinya.

Mark tetap menolak.

Dia melihat melampaui tumpukan uang tunai di atas meja negosiasi. Dia memegang teguh keyakinan pada apa yang dia bangun dari bawah. Kini, dia tertawa di atas kekaisaran media sosial yang dia ciptakan dari ketiadaan, membuktikan bahwa keteguhan hati jauh lebih bernilai daripada lembaran cek yang siap menguap dalam hitungan hari. Banyak orang menghujat keangkuhannya, tetapi mereka lupa bahwa kesuksesan memang menuntut kegilaan yang terukur.

Daftar panjang manusia sukses tidak akan pernah habis jika kita terus mengabsen mereka satu per satu. J.K. Rowling dengan tongkat sihir yang lahir dari kemelaratan, Steven Spielberg dengan lensa yang sempat ditolak sana-sini, hingga Steve Jobs yang diusir dari rumahnya sendiri di Apple. Oprah Winfrey bangkit dari trauma kelam, Soichiro Honda merangkak dari bengkel kecil yang hancur, Stevie Wonder bernyanyi dalam kegelapan, dan Helen Keller menaklukkan sunyi yang memenjarakannya.

Nama-nama ini memenuhi buku-buku motivasi yang rakusnya menelan inspirasi.

Kita mengagumi mereka sebagai monumen keberhasilan. Kita memuja mereka sebagai makhluk setengah dewa yang tidak mengenal kata menyerah. Padahal, di balik semua gemerlap itu, mereka hanyalah manusia yang dipaksa keadaan untuk tidak punya pilihan lain kecuali terus berjalan.

Usaha menjadi satu-satunya mata uang yang mereka miliki.

Mereka tidak memakan waktu untuk memelihara rasa rendah diri. Mereka tidak membiarkan stigma bodoh atau cap gagal dari masa lalu meracuni darah mereka. Saat sistem meludah di wajah, mereka menyekanya dan terus melangkah.

Berhentilah meratapi kekurangan.

Jangan lagi mengutuk kebodohan atau kegagalan yang terselip di hari-hari kemarin. Masa lalu adalah bangkai yang membusuk jika kita terus membawanya di pundak. Lepaskan beban itu. Buang jauh-jauh rasa minder yang membuat lutut gemetar. Nasib tidak pernah memihak pada mereka yang sibuk menghitung luka, tetapi selalu setia pada mereka yang berani terus menempuh jalan, meski jalan itu penuh duri.

Bagikan

5 comments

  1. kegagalan bukanlah sebuah halangan untuk manjadi sukses melainkan menjadi acuan hidup,untuk menjadi yang lebih baik…

    1. Bill Gates dan Mark Zuckerberg memang bukan orang bodoh dan cacat, tapi mereka pernah jatuh dan mengalami kegagalan.
      Misteri pasti datang kalau kiya yakin 100% terhadap sesuatu hal yang diinginkan dan diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(