Pagi buta, dapur mengepulkan aroma sangrai yang menyengat. Orang-orang bergegas mendekap cangkir hangat. Mereka bilang ini kebutuhan. Padahal, kita tahu mereka sekadar memungut nyawa yang tertinggal di bantal agar sanggup menghadapi meja kerja yang membosankan. Kopi bekerja sebagai pemompa. Zat bernama kafein membakar cadangan lemak di tubuh, mengubahnya menjadi letupan energi buatan. Begitulah kita memacu mesin daging ini agar terus berdetak sesuai ritme jam kantor.
Kafein berasal dari keluarga metilsantin. Saudara jauh dari teofilin dan teobromin yang bersembunyi dalam puluhan jenis tumbuhan. Di laboratorium, zat ini wujudnya bubuk putih pahit. Begitu masuk ke aliran darah, ia memerangi rasa lelah. Ia menyulap pikiran yang keruh menjadi tampak bertenaga.
Banyak orang meminumnya sebelum wawancara kerja. Mereka berharap otak merespons lebih cepat. Mahasiswa menenggak cairan hitam itu sebelum ujian. Mereka percaya ingatan akan lebih tajam. Sains memberi alasan. Otak memiliki senyawa bernama adenosin yang bertugas membuat kita mengantuk. Adenosin memperlambat aktivitas sel saat ia terikat pada reseptor. Kopi datang sebagai penyusup. Kafein merebut posisi adenosin di dalam reseptor otak. Adenosin gagal mengirim perintah kantuk. Tubuh terjaga karena otak terus dipaksa waspada. Semua terjadi dalam lima belas menit setelah tegukan pertama.
Jangan terlalu pongah. Tubuh manusia bukan mesin tanpa batas. Memaksa otak bekerja terus menerus memiliki ongkos mahal. Minum sepuluh cangkir sehari mengundang insomnia. Jantung berdebar liar. Kepala terasa seperti dihantam palu godam. Rasa panik mencekam orang yang sensitif. Seribu miligram kafein masuk ke tubuh, itu tindakan bunuh diri pelan-pelan.
Orang gemar menuding kopi sebagai biang keladi penyakit. Mereka mencaci kafein dengan ketakutan berlebihan. Padahal, hidup penuh dengan keseimbangan. Batasi dua ratus empat puluh miligram sehari. Cangkir Anda tetap menjadi teman setia. Jangan berlebihan menelan janji kebugaran. Tetaplah waspada pada cangkir sendiri.