Selama ini yang kita tahu kabel listrik digunakan untuk menghidupkan lampu, televisi atau perangkat elektrik lainnya, tapi sebenarnya kabel listrik bisa juga digunakan untuk menelpon maupun browsing internet. Adalah teknologi PLC (Power Line Communication) yang berhasil menggabungkan teknologi akses data berbasis IP dengan jaringan listrik.

Sebenarnya konsep menggunakan akses internet berkecepatan tinggi dengan memanfaatkan jaringan listrik bukan barang baru di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika dan Australia. Jauh sebelumnya, bahkan sudah ada upaya untuk mengimplementasikan teknologi ini. Namun sempat terhambat karena ketidakmampuan mengatasi solusi ekonomis dalam menyaring kadar noise listrik yang melekat pada kabel-kabel listrik.

Berkat riset dan inovasi terbaru, masalah tersebut dapat teratasi dengan dikenalnya PLC. Dengan PLC, pelanggan aliran listrik dengan mudah mengakses internet dengan menyambungkan PC dan telpon Anda ke modem yang terhubung ke listrik.

Saat ini PT Indonesia Comnet Plus atau Icon+, salah satu anak perusahaan PLN, telah mengembangkan teknologi ini. Jauh dari apa yang telah ditawarkan PLC dari Icon+ seperti browsing, akses email, video conference dan chatting, kemungkinan-kemungkinan lain untuk membawa teknologi PLC sebagai salah satu alternatif berkomunikasi seperti voice calling dan SMS pada handset, memang masih merupakan wacana.

Menurut Rochkadar Sukada, presider direktur Icon+, jaringan-jaringan telekomunikasi membutuhkan beberapa medium pembawa signal (baik kabel optik fiber, kabel tembaga berpasangan, atau bahkan transmisi melalui satelit).

Sementara biaya untuk medium pembawa ini umumnya lumayan mahal dan menjadi penghambat. Tetapi untuk perusahaan untilitas pemasok listrik yang telah mempunyai infrastruktur seperti itu pada grid jaringan listriknya, konsep ini cukup menjanjikan. Digital Powerline┬«™, merupakan salah satu solusi yang memungkinkan akses data dijalankan melalui kabel listrik.

“Tetapi untuk sampai masuk ke dalam jasa wireless, operator PLC harus mendapatkan lisensi dulu,” Rochkadar menambahkan. Lagipula menurutnya, dari sisi ekonomis Icon+ butuh jutaan sambungan pelanggan untuk masuk ke dalam skala yang menguntungkan.

Konsep dasar yang harus diingat adalah bahwa PLC merupakan satu pemanfaatan distribusi komunikasi voice dan data melalui media listrik bertegangan rendah. Teknologi ini jauh lebih efisien dibandingkan dengan pengguna kabel pada umumnya, karena dengan teknologi ini pemilik rumah dapat mengakses internet, VoIP, telepon dan menonton acara televisi pada saat bersamaan tanpa harus menggunakan kabel tambahan.

Namun dalam implementasinya, untuk masuk ke dalam fungsi wireless perlu diperhatikan interoperability-nya dan jaringan eksisting yang ada. Di dalamnya termasuk masalah noise terutama yang datang dari motor power dan lampu floresen dan radiasi RF, masalah regulasi (lisensi), dan masalah EMC (electromagnetic compatibility), yaitu sinyal frekuensi tinggi yang mempunyai tendens untuk “meloncat” dari rangkaian. Adanya EMC ini sangat berbahaya bagi mahluk hidup (biological system).

Teknologi ini juga diyakini hanya dapat bertahan hidup pada jaringan distribusi tegangan relatif rendah (11 kv atau kurang) dari transformer substation ke tempat pelanggan. Ini berarti bahwa infrastruktur jaringan telekomunikasi konvensial yang mahal harus disedikan untuk setiap substation. Jadi, sepertinya kita memang harus bersabar untuk bisa berinternet dan menelpon lewat jaringan kabel listrik.