Seorang Diri
mengapa tertawa jiwa kala api menggejolak tak ada lagi jeda dari kegilaan aku sendiri berangan memerangkap waktu dalam kurungan dendam hari-hari seperti memburu dari dengus yang meleleh dari napas panjang dari erangan tertusuk luka…
Fragments of Memory
mengapa tertawa jiwa kala api menggejolak tak ada lagi jeda dari kegilaan aku sendiri berangan memerangkap waktu dalam kurungan dendam hari-hari seperti memburu dari dengus yang meleleh dari napas panjang dari erangan tertusuk luka…
Di mana mereka…? Yang ketika jatuh datang menghiba Yang berharap berbagi rasa kala kekecewaan menghimpit jiwa Yang selalu berkeluh kesah tentang hidup, tentang cinta dan tentang dunia Mereka telah meraih dunianya Mereka telah berbahagia…
aku menikammu,begitu tepat di atas lukamu,perih menganga,dan merah berdarah aku mengikat tubuhmu lemah,mengoyak dada kirimu,merogoh kedalam rongganya,merenggut gumpalan jantungmu,lalu melahapnya mentah-mentah... Big Stone, 01 Mei 05
kau mutiaraku,seperti seringai langit yang terikberingas mencari beningdalam gelap jiwa terlelapmalam bukan tak syahdupun bintang memendartapi kau mutiaraku,seperti kosong mengoyak hampahening dalam beningseringai beringas …kelaparan!kasihku hanya di siniberanjak hanya di sinimenatap hanya di sinidemi…
Perempuan, sendu matamu nestapa terperangkap di wajah jiwa sekerat ikhlas termenung sejak bermusim-musim lalu seorang diri merapal harap samudera pun karam dalam peluh Sepi niscaya menikam sedang, siang malam telah musnah terkubur timbunan kenangan…
Kala ku bersetubuh dengan waktu,Hanya lelahBersimbah rasa menelan bermega sukmaBahwa,Pelangi kita sebatas cakrawalaSedangkan aku terlanjur mencintai kebiruannyaSeperti langit,Atap yang tiada terjamahTerlalu biru,Kebiruan yang menenggelamkan pandangkuMembekuMembekukMembentuk lekuk dibelahan rusuk yang tertusukTelah,Berpeluhlah langit-langit jiwaMelunturkan warna-warni pelangi…
Kasih,Apakah semak terasa sesak untuk disibak dan onak makin membercak bila terinjak?Pun duri akan meradang nyeri bila menyentuh pori-pori?Bila begitu,Jalan pulang masih dekat terlihatKasih,Telahkah gelombang membuat pasakmu gamang,hingga bahumu urung terkayuh?Mungkinkah badai sudah menyurutkan…
Bapak tua berbadan renta Ringkih berjalan nestapa di dada Pacul berlumuran lumpur dipanggul di bahu Siapa keluarga dimana rumahnya ku tak tahu Hanya saja terbersit di benakku Bagaimana aku bila ku tua Si bapak…
Kuntum mawartergeletak di koridor initepat sedetiksetelah tetes malammelumuri waktuNamun adakah malammemeram harapanserupa kebunbagi mekarnyakuntum di hatimuatau,biarlah harapan kita layubersama kuntum mawartergeletakdi koridor ini