Inggris mencatat sejarah kelam dalam dunia hukum mereka. Reynhard Sinaga, seorang pria berusia 36 tahun, resmi menerima hukuman penjara seumur hidup. Pengadilan menyatakan dia bersalah atas 159 kasus kekerasan seksual terhadap 48 pria berbeda. Polisi meyakini jumlah korban jauh lebih besar. Mereka menemukan bukti yang menghubungkan Reynhard dengan dugaan serangan terhadap 190 orang.
Reynhard beroperasi dengan pola yang rapi selama 12 tahun. Dia menyasar pria muda di luar kelab malam Manchester pada dini hari. Dia menawarkan tumpangan atau tambahan minuman alkohol kepada calon korbannya. Setelah mereka tiba di apartemen miliknya, dia mencampur minuman mereka dengan obat bius. Polisi menduga dia menggunakan GHB. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Reynhard merekam aksinya memperkosa para korban. Mereka terbangun tanpa ingatan sedikit pun mengenai kejahatan yang menimpa mereka.

Kejahatan ini terungkap pada 2017. Seorang korban berusia 18 tahun terbangun saat serangan berlangsung. Dia berhasil melawan dan merebut iPhone putih milik Reynhard sebelum melarikan diri. Polisi yang menerima laporan tersebut menemukan data grafis sebesar 3,29 terabyte di dalam telepon genggam pelaku. Jumlah data tersebut setara dengan 250 keping DVD. Rekaman menunjukkan serangan berlangsung selama berjam-jam. Dalam satu kasus, Reynhard memperkosa korban selama delapan jam.

Korban Reynhard umumnya pria heteroseksual dan berstatus mahasiswa. Jaksa penuntut umum menyebutkan bahwa Reynhard kerap merekam korban saat mereka mendengkur atau bahkan muntah dalam kondisi koma. Saat korban mulai tersadar, Reynhard mendorong mereka kembali ke lantai untuk melanjutkan aksinya atau menyambar telepon demi menghindari kecurigaan. Ian Rushton, Wakil Kepala Kejaksaan North West, menyebut Reynhard sebagai pemerkosa paling produktif dalam sejarah hukum Inggris. Dia menyoroti rasa berhak seksual Reynhard yang melampaui batas nalar.
Reynhard menyimpan barang milik korban sebagai piala. Dia melacak para pria tersebut melalui Facebook setelah melakukan kejahatan. Dia bahkan membual kepada teman-temannya melalui pesan teks. Dia menulis tentang korban yang tidak sadarkan diri sebagai pencapaian dalam dunia gay. Dalam percakapan telepon, dia mengutip lagu grup Little Mix untuk mengejek korban.

Para korban jarang merasa terancam oleh Reynhard. Mereka menganggap dia pria baik yang membantu saat telepon mereka mati atau terpisah dari teman. Salah satu korban menyebut dia tidak menyadari ada monster yang mengintai untuk memanfaatkan kondisi mabuknya. Reynhard mengklaim di pengadilan bahwa para pria yang dia serang memberikan persetujuan. Dia menyebut para korban berpura-pura tidak sadar untuk memenuhi fantasi miliknya. Jaksa penuntut menyebut pembelaan itu tidak masuk akal. Reynhard bahkan menuduh korban berbohong kepada polisi karena takut identitas gay mereka terbongkar.
Reynhard berasal dari keluarga kaya di Indonesia. Dia menetap di Inggris dengan visa pelajar. Dia terdaftar sebagai mahasiswa doktoral di Universitas Leeds dan rutin pergi ke Manchester. Judul tesis miliknya membahas seksualitas dan transeksualitas pria Asia Selatan di Manchester. Hakim yang memimpin persidangan menyebut kejahatan Reynhard sebagai perbuatan jahat dan keji. Dia menyebut Reynhard sebagai predator seksual berantai yang memangsa pria muda yang ingin bersenang-senang dengan teman mereka.

Menteri Dalam Negeri Inggris, Priti Patel, meminta peninjauan mendesak terhadap undang-undang mengenai obat pemerkosaan seperti GHB. Obat ini memiliki daya tekan kuat dan masuk dalam daftar obat terlarang golongan C di Inggris. Kepolisian mendesak siapa pun yang merasa menjadi korban Reynhard untuk melapor melalui saluran resmi yang tersedia.