Genderang pemilihan presiden telah berhenti bertalu. Suara rakyat sudah masuk ke kotak suara, menghitung angka, dan menobatkan sang penguasa baru. Kini, urusan bergeser. Panggung sandiwara berpindah dari aksi rebutan takhta ke seni mempertahankan kursi panas agar tidak direbut lawan. Para penasihat politik mulai membisikkan strategi, namun kuharap mereka tidak membuka lembaran berdebu dari tahun 1513 milik Niccolo Machiavelli.
Buku itu berjudul Il Principe.
Ia berupa surat cinta beracun dari Machiavelli untuk Lorenzo de’ Medici, penguasa Florence. Isinya manual praktis merawat kekuasaan. Penulisnya, pria kelahiran Florence tahun 1469 itu, membuang jauh etika ke tempat sampah sejarah. Ia tidak peduli moral. Namanya kemudian menjadi sinonim dengan pemerintahan busuk, totaliter, dan bengis. Tipu daya serta kelicikan adalah napas utama ajaran yang kelak kita kenal sebagai machiavellianisme. Paus pun berang pada 1559, melarang buku itu beredar di seluruh penjuru iman.
Pembela Machiavelli kerap meradang. Mereka berteriak bahwa dunia menghakimi sang penulis secara sepihak. Orang-orang sibuk menelanjangi Il Principe, padahal mengabaikan Discorsi Sopra la Prima Deca di Tito Livio. Mereka bersumpah bahwa Machiavelli sebenarnya pria saleh dan bermoral.
Dia memang penulis produktif. San Casciano menjadi saksi bisu saat ia dikucilkan oleh keluarga Medici. Di sana, ia merangkai Dell’arte Della Guerra tentang seni perang, menulis sejarah kota Florence, hingga menyusun biografi Castruccio Castracani. Ia bahkan menyentuh sastra dengan drama komedi La Mandragola dan satire L’asino d’Oro.
Terlepas dari bau busuk kontroversinya, Il Principe memiliki daya magis. Robert Downs menempatkannya sejajar dengan Das Kapital milik Marx atau karya Isaac Newton sebagai buku yang mengubah dunia. Pengaruhnya merayap diam-diam di lorong-lorong kekuasaan global.
Abad ke-20 menjadi panggung megah bagi ajaran ini. Napoleon Bonaparte tidur dengan buku itu terselip di bawah bantal. Para diktator kelas berat seperti Stalin, Hitler, dan Mussolini menelan bulat-bulat teorinya. Mussolini menjadi satu-satunya yang berani mengaku di depan khalayak bahwa ia mengagumi Machiavelli. Sisanya? Mereka mempraktikkan ajarannya dengan penuh gairah, namun menutup rapat mulut mereka agar tidak ketahuan rakyat sendiri.
Kekuasaan selalu memiliki bau yang sama, entah di Florence zaman dulu atau di sini sekarang. Ia membutuhkan darah, keringat, dan topeng yang tepat. Jika penguasa kita hari ini mulai mempraktikkan langkah-langkah dalam Il Principe, jangan terkejut. Itu sudah tertulis sejak lima abad lalu.