Manusia memang gemar memenjarakan sesamanya ke dalam kotak-kotak sempit. Kita merasa perlu melabeli setiap orang yang kita temui di jalan, di kantor, bahkan di ruang tamu sendiri agar hidup terasa lebih terkendali. Kita sibuk meraba-raba karakter orang lain, seolah dengan memahami kode genetik mereka, kita bisa menguasai dunia. Padahal, diri sendiri saja sering kali menjadi asing yang tak kunjung selesai kita kenali.
Hippocrates, kakek moyang kedokteran itu, punya obsesi membedah watak menjadi empat golongan. Sanguinis, Kholeris, Melankolis, Phlegmatis. Begitu katanya. Kita semua dianggap sebagai adonan dari campuran sifat-sifat ini, seolah jiwa manusia hanyalah resep masakan yang bisa diukur takarannya.
Melankolis, misalnya. Ia adalah sosok perfeksionis yang gemar menyiksa diri dengan ketelitian berlebih. Dia mencatat setiap kesalahan orang lain di dalam buku harian mentalnya. Dia sensitif, sering murung, dan lebih suka menarik diri daripada membuka pintu bagi orang asing. Sahabat setia, katanya, namun mencari satu saja dari mereka ibarat menambang emas di sungai kering. Dia tekun, namun hatinya curigaan. Dia cerdas, namun terkadang egois dan pesimistis akut.
Lihat si Phlegmatis yang selalu santai. Dia adalah definisi orang yang menunda pekerjaan sampai detik terakhir. Dia tenang, dingin, dan menghindari konflik dengan segala daya. Hidup baginya adalah alur yang datar, tanpa gairah yang meletup-letup. Dia menyenangkan saat diajak mengobrol, namun janji-janjinya licin bagai belut. Dia enggan mengungkapkan perasaan, plin-plan, dan penuh rasa cemas yang disembunyikan di balik wajah tanpa ekspresi.
Lalu ada si Kholeris yang merasa lahir untuk menjadi penguasa. Dia aktif, keras, dan tidak punya waktu untuk obrolan basa-basi yang tidak jelas tujuannya. Dia memandang sasaran dengan mata tajam, mengabaikan rintangan yang mungkin membuat orang lain jatuh. Dia mandiri, tegas, dan mandiri secara brutal. Namun, bergaul dengannya adalah seni bertahan hidup. Dia ceroboh, dominan, sarkastis, dan meledak-ledak. Siap-siap saja jika Anda menjadi sasaran amarahnya saat dia merasa bosan.
Sanguinis menutup daftar ini sebagai si cerewet yang tak bisa diam. Dia spontan, hangat, dan memiliki semangat yang meletup di setiap celah pergaulannya. Dia punya segudang teman, namun fokusnya berpindah secepat kilat. Disiplin adalah musuh bebuyutannya. Dia emosional, tidak produktif, dan gemar membesar-besarkan masalah sepele demi drama yang lebih panjang. Jangan pernah memercayakan rahasia apa pun kepadanya; lidahnya terlalu ringan untuk menyimpan beban.
Kita semua adalah kombinasi dari kelemahan-kelemahan yang dipoles menjadi karakter. Mengotak-ngotakkan manusia dalam empat kategori ini memberikan kenyamanan palsu bahwa kita memahami sesama.
“Dia begini karena memang dia Sanguinis,” ucapmu, seolah label itu adalah pembenaran atas perilaku buruk seseorang.
Pada akhirnya, teori-teori ini tidak lebih dari alat untuk membenarkan ketidakmampuan kita beradaptasi. Kita semua cacat. Menghabiskan waktu dengan menebak-nebak tipe temperamen orang lain tidak akan mempermudah pergaulan. Yang kita perlukan bukan klasifikasi, melainkan kesabaran untuk menghadapi ketidaksempurnaan manusia yang memang takkan pernah bisa dirumuskan secara tuntas.