Kisah Seorang Raja

Sehari setelah naik takhta, sang raja berseru dari atas balkon istana yang agung, “Dunia ini milikku!” Rakyat yang berkumpul di alun-alun menyambut kalimat itu dengan sorak-sorai yang riuh. Ada rasa bangga di dada orang-orang kecil itu karena bertuankan seorang lelaki yang ambisius. Mereka merayakan titah sang penguasa baru dengan gempita yang membubung ke langit.

Tujuh hari tujuh malam lamanya seluruh negeri dilarutkan dalam pesta pora. Di atas meja-meja perjamuan, makanan dan minuman berlimpah tanpa putus, berkelindan dengan gerakan tari serta nyanyian dari para wanita cantik. Sang raja menyaksikan pemandangan itu dari singgasananya sambil tersenyum, membatin di dalam hati betapa murah dan mudahnya mempersembahkan rasa bahagia kepada orang lain.

Namun, waktu selalu bergerak tanpa mempedulikan kesenangan manusia. Beberapa minggu setelah perayaan itu usai, sang raja memutuskan untuk meminang putri bungsu dari kerajaan seberang. Hari pernikahan pun ditetapkan, tepat pada awal munculnya bulan purnama yang ketiga.

Melihat keputusan itu, sang mahapatih datang menghadap, memperingatkan dengan suara yang berat, “Ini bukanlah saat yang pantas, Baginda. Sama sekali tidak ada kebaikan bagi kerajaan untuk mengadakan pesta pernikahan besar di hari-hari seperti ini.”

Sang raja terdiam, lalu memilih untuk mengalah pada nasehat sang patih. Ia menikahi sang putri dalam keheningan, tanpa ada kemeriahan pesta sedikit pun. Perubahan mendadak itu melahirkan kasak-kusuk di antara kawula muda dan tua. Rakyat mulai bertanya-tanya di kedai-kedai, menduga jangan-jangan kas keuangan kerajaan sedang dilanda krisis yang parah. Menghadapi desas-desus itu, sang raja hanya bisa tertawa masam tanpa memberikan penjelasan.

Separuh windu kemudian, malapetaka yang sesungguhnya tiba. Sang raja mendadak jatuh sakit. Sebuah penyakit parah yang terus menggerogoti tubuhnya dan tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik seiring bergantinya musim.

“Wahai, apakah yang sebenarnya menjadi penyebab dari penderitaan ini?” tanya orang-orang di luar pagar istana.

Namun, tidak ada satu pun manusia di dalam negeri yang memegang jawabannya. Mahapatih yang pandai, tabib istana yang mengoleksi ratusan ramuan, bahkan ibu suri yang melahirkannya pun sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam tubuh sang penguasa.

Lima tahun berlalu dalam kesunyian, hingga kini genap tahun kesembilan dalam masa pemerintahannya. Sang raja tetap bertahan di atas ranjangnya, tanpa pernah sembuh dari penyakit misterius tersebut. Rakyat mulai didera rasa sedih dan gelisah yang mendalam melihat pemimpin mereka meranggas. Di tengah semua perhatian itu, sang raja lagi-lagi hanya melempar tawa masam. Bagaimanapun juga, ada rahasia yang tidak akan pernah ia bagikan kepada siapa pun di dunia ini. Tidak kepada mahapatih yang setia, tidak kepada ibu suri, pun tidak kepada rakyat yang teramat dicintainya.

Sore itu, dengan sisa tenaga yang ada, sang raja melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya yang sunyi. Ia duduk di depan meja kayu, mengambil sehelai kertas kosong dan sebatang pena, lalu mulai menggoreskan tulisan secara perlahan.

Adinda, tidakkah ada rasa iba sedikit pun di dalam hatimu kepadaku? Jasadmu memang tertahan di dalam kamar ini, namun tidak dengan jiwamu. Orang-orang di luar sana melihatmu berdiri dengan anggun di sisiku, tetapi kita berdua tahu ada kebohongan yang besar di balik semua pandangan itu. Bagaimana mungkin aku dapat memimpin rakyatku dengan utuh jika kondisiku hancur seperti ini? Ah, tidakkah sebaiknya aku memilih mangkat saja dari atas muka bumi?

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(