Seorang wartawan bergegas menghampiri meja presiden bank. Wajahnya penuh ambisi, haus akan jawaban singkat atas hidup yang rumit. Dia bertanya tentang rahasia kejayaan sang bankir.
“Dua kata,” jawab sang presiden tanpa menoleh.
Wartawan itu mencondongkan tubuh. “Apa kata itu, Tuan?”
“Keputusan benar.”
Si wartawan tidak puas. Dia mengejar lagi dengan pertanyaan yang lebih mendesak. “Lalu bagaimana cara mengambil keputusan benar?”
“Satu kata.”
Pria di kursi empuk itu menatap lurus. “Pengalaman.”
Keheningan merayap di ruangan. Si wartawan hampir tersedak. Dia mengumpulkan keberanian untuk melontarkan pertanyaan pamungkas. “Bagaimana cara mendapatkan pengalaman?”
“Dua kata.”
“Apa itu, Tuan?”
“Keputusan salah.”
Dialog itu berakhir di sana. Tidak ada lagi nasihat panjang lebar atau kuliah motivasi yang membosankan. Sang bankir membiarkan jawabannya menggantung seperti hantu di udara. Kita seringkali memuja kesuksesan sebagai hasil dari kecerdasan yang luar biasa, padahal kesuksesan hanyalah sisa-sisa dari tumpukan kesalahan yang pernah kita buat di masa lalu.
Manusia takut melakukan kesalahan. Mereka membangun tembok pelindung, menghitung risiko, dan berusaha tampil sempurna. Mereka lupa bahwa setiap keputusan salah adalah batu bata yang membangun fondasi pengalaman. Tanpa kegagalan, keputusan benar hanyalah sebuah keberuntungan buta yang tidak memiliki akar.
Kita memuja orang-orang besar di kursi tinggi seolah mereka tidak pernah terjatuh. Padahal, di balik senyum tipis mereka, tersimpan catatan panjang tentang kekeliruan yang memalukan. Mereka yang berani mengambil keputusan salah adalah mereka yang sesungguhnya belajar. Mereka yang terlalu takut salah adalah mereka yang tidak pernah benar-benar hidup.
Wartawan itu pergi dengan tangan hampa dari nasihat-nasihat manis. Dia membawa pulang sebuah kejujuran yang pahit. Anda ingin sukses? Berhentilah mencari jalan pintas. Mulailah membuat kesalahan. Buatlah keputusan yang salah berulang kali. Sebab, itulah satu-satunya cara manusia menjadi bijak. Tidak ada cara lain.