Monumen Sepatu Muntazar Al Zaidi, Pelempar George W. Bush

Kita tentu masih ingat, atau setidaknya samar-samar menyimpan dalam ingatan, sosok Muntazar al-Zaidi. Desember 2008, dalam kunjungan perpisahan yang ganjil dan penuh aroma ketegangan, wartawan Irak itu melemparkan sepasang sepatunya ke arah George W. Bush. Sebuah gestur yang, dalam budaya Arab, adalah penghinaan yang paling telak, paling rendah, sekaligus paling jujur.

Al-Zaidi bukanlah produk kebencian instan. Ia tumbuh di Sadr City, pinggiran Baghdad yang akrab dengan desing peluru dan debu peperangan. Lulusan komunikasi dari Universitas Baghdad ini meniti karier di Al-Baghdadia TV sejak 2005. Teman-teman dekatnya mengenal dia sebagai sosok yang getir, seseorang yang jiwanya tergores dalam oleh kehancuran yang ia saksikan sendiri saat meliput pemboman pasukan AS di lingkungannya.

Video Rekaman Saat al-Zaidi Melempar Sepatu ke Arah Presiden Bush

Baginya, laporan jurnalistik bukan sekadar berita; ia mendokumentasikan duka orang-orang seperti Zahra, seorang siswi yang tewas di tangan pasukan pendudukan dalam perjalanan menuju sekolah. Ia menolak bekerja di stasiun televisi yang ia sebut sebagai saluran pro-pendudukan, sebuah sikap yang menunjukkan bahwa ia tidak sekadar memungut informasi, tetapi memihak pada mereka yang tersisih.

Muzhir al-Khafaji, atasannya, menyebut al-Zaidi sebagai orang Arab yang bangga dan berpikiran terbuka, jauh dari keterikatan dengan rezim Saddam yang represif. Sami Ramadani, seorang pengasingan politik di London, mencatat dalam The Guardian bahwa al-Zaidi adalah jurnalis pertama yang biasanya sampai di titik-titik duka, membiarkan para korban perang berbicara lebih dahulu daripada helikopter-helikopter Apache yang menderu di langit Irak.

Jurnalis Irak Muntadhar al-Zaidi melemparkan sepatu dalam aksi protes kepada Presiden AS George W. Bush saat konferensi pers di Baghdad.
Man of The Year: Jurnalis Irak Muntadhar al-Zaidi

Keberanian itu kemudian mengkristal dalam bentuk sebuah monumen. Di Tikrit, kota kelahiran Saddam Hussein, sebuah patung sepatu perunggu setinggi tiga meter berdiri tegak. Ia didirikan di sebuah panti asuhan, tempat bernaungnya anak-anak yang kehilangan orang tua akibat invasi 2003. Seniman Laith Al-Ameri memahatnya bukan atas pesanan partai politik, melainkan sebagai sebuah hadiah bagi keluarga al-Zaidi yang dianggap pahlawan. Pada kaki monumen itu, tertulis puisi yang melambungkan nama pria yang saat itu mendekam di penjara atas tuduhan menyerang kepala negara asing.

Namun, sejarah di Irak adalah sejarah yang penuh dengan pembongkaran. Tak lama setelah berdiri, monumen sepatu raksasa itu diturunkan. Pemerintah pusat di Baghdad memerintahkan pembongkaran dengan alasan yang sangat birokratis: agar fasilitas pemerintah tidak digunakan untuk motif politik. Polisi datang memastikan perintah itu dijalankan, menyapu bersih simbol yang sempat membuat rakyat Irak merasa memiliki pahlawan yang bisa berdiri tegak melawan orang paling berkuasa di dunia.

Patung itu memang telah tiada, dipindahkan dari taman panti asuhan itu, tetapi ia meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus. Direktur panti asuhan pernah berkata, anak-anak di sana adalah korban langsung dari perang yang dikobarkan Bush. Monumen itu, meski singkat usianya, adalah sebuah penanda. Ketika generasi mendatang bertanya tentang sepatu perunggu raksasa yang pernah tegak di sana, orang tua mereka akan mulai bercerita tentang Muntazar al-Zaidi. Tentang seorang jurnalis yang melempar sepatu kepada presiden yang paling tidak populer di negerinya, sebagai hadiah perpisahan yang pahit, namun jujur.

Pada akhirnya, simbol mungkin bisa dibongkar, patung bisa dipindahkan, dan jurnalis bisa dipenjara. Namun, ingatan kolektif tentang penghinaan terhadap sebuah invasi—yang disimbolkan oleh sepasang sepatu tua—adalah sesuatu yang tidak bisa dibongkar oleh perintah birokrasi mana pun.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(