Penceramah itu berdiri di atas panggung, memegang selembar uang seratus dolar dengan gaya seorang pesulap amatir. Dia bertanya siapa yang menginginkan uang tersebut. Tentu saja, puluhan tangan teracung. Semua orang tahu nilai selembar kertas itu tidak berubah meski berpindah tangan.
Dia meremas uang itu.
Kertas hijau itu berkerut, lecek, dan kehilangan bentuk aslinya. Dia bertanya lagi kepada ruangan yang penuh sesak. Tangan-tangan masih terangkat tinggi. Dia melangkah lebih jauh. Dia melempar uang tersebut ke lantai, lalu menginjaknya dengan sepatu yang mungkin baru saja melewati lumpur di luar gedung.
Uang itu kini kotor, berdebu, dan tampak menyedihkan.
Apakah kalian masih menginginkannya?
Tentu saja mereka masih menginginkannya. Nilai nominal tidak luntur hanya karena sentuhan debu jalanan. Penceramah itu tersenyum lebar, merasa telah menemukan analogi paling brilian untuk menjelaskan harga diri manusia. Dia bilang kita seperti uang itu. Kita pernah jatuh, terkoyak oleh keputusan buruk, dan terperosok ke dalam kotoran kehidupan. Kita merasa hina. Kita merasa tidak berharga. Namun, dia menegaskan bahwa nilai kita tidak berubah.
Saya mendengarkan cerita ini dengan rasa mual yang tertahan.
Kita bukanlah selembar kertas yang dicetak oleh bank sentral. Kita adalah makhluk yang dibentuk oleh pilihan, rasa sakit, dan sejarah yang melekat di kulit. Menyamakan manusia dengan benda mati adalah cara paling malas untuk menghibur diri sendiri.
Jika uang itu kotor, kita bisa mencucinya dengan air dan sabun. Jika uang itu lecek, kita bisa menyetrikanya hingga kembali licin. Hidup manusia jauh lebih rumit daripada itu. Luka yang kita pikul tidak bisa dihapus dengan retorika panggung yang murah.
Si penceramah mengklaim kita tetap berharga di mata mereka yang mencintai kita. Dia ingin kita merasa spesial. Dia ingin kita duduk tenang, menerima nasib, dan merasa diri kita tetap mulia meski sedang terpuruk di tanah.
Saya melihat para penonton mengangguk-angguk, seolah kata-kata itu menyembuhkan segala retak di hati mereka. Mereka ingin percaya. Mereka butuh alasan untuk tidak membenci diri sendiri. Mereka menelan mentah-mentah metafora dangkal ini demi kenyamanan sesaat.
Tapi cobalah tanya mereka yang benar-benar tersingkir.
Tanya mereka yang tidak memiliki siapa pun untuk mencintai mereka. Tanya mereka yang kehidupannya tidak hanya lecek, melainkan robek berkeping-keping tanpa harapan untuk diperbaiki. Apakah nilai mereka tetap utuh di mata dunia yang kejam ini?
Dunia tidak memperlakukan manusia seperti uang seratus dolar yang tetap berharga meski diinjak. Dunia sering kali membuang kita ke tempat sampah begitu kita kehilangan kegunaan. Mengatakan kita spesial adalah hal yang mudah dilakukan saat Anda berdiri di atas panggung, memegang mikrofon, dan hidup dari menjual kata-kata yang menenangkan.
Penceramah itu menutup seminarnya dengan senyuman puas. Dia mendapatkan tepuk tangan meriah. Para penonton pulang dengan perasaan ringan, membawa pulang dongeng tentang harga diri yang tidak bisa dihancurkan. Sementara di luar, kenyataan tetap tidak peduli pada betapa berharganya Anda di dalam hati Anda sendiri.
you’re the special one….