Harvard menjemukan. Bill Gates menatap dinding ruang kuliah dengan kebosanan yang meluap. Ia meninggalkan bangku kampus untuk berburu pekerjaan di seputar Boston. Komputer menjadi satu-satunya obsesi. Paul Allen ia seret bersamanya. Ia paksa kawan karibnya melamar di Honeywell. Rencana besar sudah tersusun rapi di kepala mereka. Mereka ingin membangun perusahaan perangkat lunak sendiri.
Desember membeku. Salju menutupi jalanan kota. Paul Allen memegang majalah Popular Mechanics edisi Januari 1975. Sampul depannya memamerkan MITS Altair 8080. Komputer mikro rakitan yang tampak aneh namun menjanjikan. Allen mendatangi Gates dengan mata berbinar.
“Lihat ini,” Allen menyodorkan majalah itu. “Kita kembangkan bahasa untuk mesin kecil ini. Yuk, dirikan perusahaan sekarang.”
Gates terdiam. Ia menatap gambar Altair 8080. Revolusi tidak menunggu siapa pun. Mereka menyadari hal itu. Tanpa mereka, sejarah tetap berjalan. Namun, mereka memutuskan untuk melompat ke dalam arus. Mereka menentukan arah hidup tepat di depan majalah itu.
Dua sekawan ini berlari menuju komputer universitas. Mereka menulis adaptasi program bahasa BASIC dengan terburu-buru. Tangan mereka menari di atas papan tik. Keyakinan mereka membuncah. Mereka memandang mesin kecil itu sanggup mengubah dunia. Mimpi mereka terdengar konyol pada masa itu. Komputer di setiap meja tulis. Komputer di setiap rumah tangga.
Semangat mereka melahirkan sebuah mode komputasi baru. Alat yang kelak mendikte gerak peradaban. PC mengubah wajah zaman informasi menjadi seperti yang kita saksikan saat ini. Nama Bill Gates melejit tinggi. Ia menumpuk kekayaan melampaui siapapun di muka bumi. Keberhasilan mereka berawal dari keinginan nekad dua pemuda yang bosan dengan rutinitas kampus dan sebuah mesin rakitan yang tergeletak di sampul majalah.