Sang Ratu Porno Abad Ini

Asia Carrera melenggang ke dalam ingatan banyak orang sebagai sebuah komoditas. Raga yang menyimpan darah Jepang dan Jerman itu memang sebuah perpaduan desain yang efektif untuk memancing gairah kaum Adam di depan layar. Ia bukan sekadar aktris. Ia seorang pemasar yang tahu cara menjual fantasi dengan kalkulasi matang. Di tengah hiruk pikuk industri film dewasa, Carrera mengelola citra dirinya seperti mengelola saham. Ia menjawab surat elektronik para penggemar bukan karena kerinduan, melainkan untuk menjaga rantai pasokan pasar yang ia kuasai.

Uang mengalir deras. Seribu dolar per minggu menjadi angka yang biasa bagi wanita pemilik ukuran tubuh tiga puluh enam C ini. Namun, jalan menuju tumpukan dolar tidak pernah semulus kulit yang ia pamerkan di depan kamera. Ia tidak jatuh dari langit sebagai bintang. Ia merangkak dari dasar, dari bau keringat dan gelas-gelas kotor bar yang pekat dengan aroma alkohol murah.

Suatu malam, seorang pengelola bar menawarkan honor seratus dolar untuk menyajikan minuman dengan pakaian minim. Ia meneguk vodka untuk mematikan rasa takut. Uang itu terasa manis. Rasa malu pun luruh. Ia melompat menjadi penari telanjang dengan bayaran tiga kali lipat. Tubuh itu menjadi instrumen musik yang digerakkan untuk memanen dolar dari mata-mata yang lapar di sudut ruangan.

Ia menginginkan lebih. Fotografer menjadi jembatan menuju mimpi yang lebih vulgar. Ia mengirim biodata ke setiap majalah pria di Amerika. Fotonya laku keras. Penjualan majalah meningkat. Carrera mengendus kesempatan besar. Tahun sembilan puluh tiga, ia mengemas koper, membawa boneka beruang, lalu berangkat ke Los Angeles. Ia menabrak pintu-pintu sutradara film dewasa. Orangtuanya marah besar, tapi ia tidak peduli. Ia memilih jalannya sendiri di atas ranjang-ranjang studio.

Dua ratus lima puluh judul film ia perankan. Angka yang fantastis bagi sebuah karier yang dibangun di atas otot dan napas yang terengah. Judul-judul seperti American Dream Girls atau Bangkok Boobarella meluncur dari meja produksinya. Ia mencoba segala gaya. Dari yang biasa sampai yang absurd. Ia menjadi ratu di industri itu.

Kehidupan pribadinya berantakan. Ia bercerai dengan Don Lemmon pada tahun yang sama saat ia memulai semuanya. Pernikahan kedua dengan Bud Lee, seorang sutradara film dewasa, memberinya ilusi tentang cinta sejati.

Ia berasal dari keluarga akademisi. Ayahnya ahli matematika dan fisika. Orangtuanya memimpikan ia mengenakan toga Harvard, berdebat di ruang sidang, atau memakai jas putih dokter. Ia memilih membelot. Ia memilih tuts piano dan pergaulan liar. Menjelang tujuh belas tahun, ia kabur dari rumah. Ia hidup bersama kelompok musik rock. Ia sempat menetap di asrama anak jalanan. Ibu angkatnya mencoba mendisiplinkannya, tapi pemberontakan di dalam darahnya terlalu kuat untuk dijinakkan aturan.

Lulus SMA, ia kembali kabur. Ia yakin uang akan mengubah nasibnya. Ia mendapatkan beasiswa ke Universitas Rutgers untuk jurusan bisnis. Sambil menimba ilmu manajemen di kelas, ia melayani gelas-gelas minuman di kafe. Ia tidak lagi bergantung pada beasiswa. Ia memutar uang itu. Pekerjaan bartender menjadi pintu gerbang menuju panggung tari telanjang yang lebih besar. Ia menggoyangkan tubuh di depan banyak orang. Ia mengerti bahwa tubuhnya adalah modal utama. Ia mengerti bahwa tatapan pria yang bernafsu adalah bahan bakar yang paling efisien untuk membakar ambisinya menjadi orang kaya.

Bagikan

Leave a Reply