Kita mengenal Amorphophallus titanum Becc. sebagai bunga bangkai, atau yang oleh penduduk lokal kerap disebut suweg raksasa. Ia adalah penghuni asli hutan hujan basah di Sumatera, sebuah entitas biologis yang oleh dunia dicatat sebagai pemilik bunga majemuk terbesar. Tentu, ada catatan yang menyebut kerabatnya, A. gigas, mampu menjulang hingga lima meter, namun tetap saja, bunga bangkai memiliki tempat khusus dalam imajinasi kolektif kita.
Bau busuk yang ia keluarkan—sebuah mekanisme evolusi yang cerdik untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk—bukanlah sebuah anomali, melainkan cara alam mempertahankan kelangsungan hidup. Bengkulu pun menjadikannya simbol provinsi. Ia adalah bagian dari kekayaan yang tumbuh di tanah kita, yang sepatutnya kita jaga dengan rasa memiliki yang sadar.
Namun, rasa memiliki itu sering kali terbentur pada kenyataan yang getir. Pernahkah Anda melintasi perempatan Kuningan di Jakarta dan melihat baliho besar iklan pariwisata Malaysia? Di sana, dengan tanpa rasa bersalah, mereka menampilkan bunga bangkai asal Bengkulu itu sebagai ikon wisata negeri mereka. Jika Anda meluangkan waktu untuk menelusuri situs web pariwisata Malaysia, Anda akan menemukan hal yang sama: klaim sepihak atas keindahan yang secara geografis dan historis berakar di bumi Sumatera.
Melihat fenomena ini, muncul sebuah harapan agar pemerintah kita tidak lagi bersikap lamban dalam menjaga aset bangsa. Ini bukan sekadar perkara botani atau pariwisata, melainkan soal harga diri dan ingatan atas apa yang kita miliki. Kita sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana kekayaan budaya, pulau, hingga kuliner bangsa ini satu demi satu dicaplok atau dianggap milik negeri tetangga tersebut.
Dalam sunyi dan kepasrahan, kita pun mulai bertanya-tanya dengan nada penuh cemas. Apakah nanti, fauna endemik kita seperti burung Cenderawasih yang elok atau Badak Cula Satu yang terancam punah pun akan mengalami nasib serupa? Apakah kita harus menunggu semuanya diakui secara administratif oleh bangsa lain sebelum kita sadar bahwa menjaga apa yang tumbuh di tanah sendiri adalah tugas yang tak bisa ditunda-tunda?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sekadar mengeluh dan mulai menuntut ketegasan, sebelum kekayaan alam kita habis diklaim oleh mereka yang lebih rajin mempromosikan apa yang sebenarnya bukan milik mereka.
bner ni kalo kayak gini terus bisa2 semua kekayaan alam di indonesia bisa di ambil sama malaysia, terus pemerintahnya jga kayak gitu sih yg di liat politik melulu sedengkan hal yg kecil tdk pernah di perhatikan, mau jadi bangsa apa kita ini nanti??
hahahaha…..bro..sumpah entry mu ini amat lucu sekali deh….aku ini orang malaysia…..Sabah Malaysia….sini aku ajar kau…cuba google..tempat yang bernama sabah malaysia…di negeri sabah..yg namanya bunga reflesia atau bunga bangkai banyak sangat tumbuh di hutan hutan sabah….contoh…national park kundasang Ranau Sabah….gunung kinabalu….Poring Ranau Sabah….malahan di hutan hutan bukit…reflesia itu tumbuh bagai cendawan..cuman tumpuan pelancong bunganya dijaga…hahahahahahahah ya wajarlah tourism malaysia letak lambang bunga itu….hahahahahahahahah…..cuba loe datang sini…bunga bangkai itu banyak kok….hahah malahan rakyat indonesia yg bekerja sebagai bibik dan di ladang kelapa sawit juga banyak disini..hahahahahaha..klu loe nggak mampu dtg malaysia…google aja deh….jgn bt malu entry mcm ni..sakit perut aku ketawa