Orang-orang sering menelan mentah-mentah nasihat yang manis. Mereka memuja kutipan penuh aroma bunga yang dijual lewat buku-buku motivasi picisan. Tulisan yang menjanjikan ketenangan jiwa seolah hidup adalah perjalanan di taman bunga yang terawat rapi. Padahal, dunia ini lebih menyerupai rawa-rawa yang licin dan gelap.
Kau akan paham suatu saat nanti.
Ada garis batas yang kabur antara menggandeng tangan seseorang dengan tindakan membelenggu jiwa. Kita sering keliru menganggap perlindungan sebagai bentuk kurungan. Kita mengira cinta adalah sandaran untuk melepas beban. Kenyataannya, sandaran itu sering menjadi titik tumpu yang merobohkan diri sendiri.
Jangan percaya pada ciuman sebagai surat perjanjian di atas materai. Jangan pula menganggap pemberian sebagai janji yang mengikat masa depan. Orang mudah berjanji saat bibir masih basah oleh rasa sayang. Saat keadaan berubah, janji-janji itu menguap seperti embun di bawah terik matahari.
Belajarlah menerima kekalahan. Laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak, semua akan menabrak dinding nasib pada waktunya. Angkatlah kepala saat terjatuh. Jangan merengek seperti anak kecil yang kehilangan permen di pasar. Kebenaran tidak pernah memihak pada mereka yang cengeng.
Jalan hari esok tertutup kabut tebal. Merencanakan masa depan terlalu detail adalah kesombongan yang sia-sia. Lakukan apa yang bisa dikerjakan detik ini saja. Tanah di depan kita tidak stabil.
Sinar matahari memberikan kehidupan, tetapi ia juga mampu menghanguskan kulitmu jika terlalu lama berdiri di bawahnya. Segala sesuatu yang berlebihan berubah menjadi racun. Kerjakan apa yang perlu dikerjakan sendiri. Jangan membuang waktu menanti orang lain membawakan bunga sebagai simbol kasih sayang yang fana.
Hiasilah jiwamu dari dalam. Jika bunga harus mekar, tumbuhkan benihnya di kebun sendiri. Jangan pernah menggantungkan napas pada tangan orang lain.
Kau akan bertahan. Bukan karena diselamatkan oleh pihak lain, tetapi karena kau memaksakan kakimu tetap berdiri di tengah badai. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh siapa yang memujimu hari ini atau siapa yang mengabaikanmu esok pagi. Dunia ini tidak pernah menjanjikan apa-apa. Kau yang memutuskan apakah kau ingin menjadi debu atau batu karang.