Waktu kecil, ada hal-hal yang saya percaya bukan karena benar, tapi karena Bapa yang mengatakannya.

Bulan puasa selalu punya tiga suara yang paling saya ingat: suara orang bangun sahur, suara sendok di meja makan sebelum subuh, dan suara sandal orang berjalan ke masjid ketika langit masih gelap.

Di rumah kami, Mama selalu bangun paling dulu. Entah jam berapa beliau mulai bergerak di dapur. Yang saya tahu, ketika kami dibangunkan, makanan sudah ada di meja. Nasi masih hangat, lauk sudah siap, ovaltine juga sudah dituang. Mama membangunkan kami satu per satu, tidak sekaligus. Mungkin karena beliau tahu, membangunkan anak sahur itu bukan pekerjaan ringan. Apalagi kalau anak-anak itu masih lebih mencintai tidur daripada puasa.

Saya termasuk yang paling susah bangun.

Pernah satu kali, saya sudah berhasil duduk di kursi makan, tapi sebenarnya belum betul-betul bangun. Mata setengah tertutup, badan masih condong ke depan, kepala hampir jatuh ke piring. Barangkali saya sedang makan sambil tidur, atau tidur sambil menunggu makan.

Tiba-tiba wajah saya basah.

Mama menyiram saya dengan air es.

Saya langsung tegak. Mata terang. Dunia kembali jelas.

Mama tidak banyak bicara. Beliau hanya melanjutkan urusan sahur seperti biasa. Bagi Mama, itu mungkin cara paling cepat untuk mengembalikan anak kecil dari alam mimpi ke meja makan.

Tapi yang paling tidak enak dari sahur bukan dibangunkan dengan air. Yang paling tidak enak adalah kalau kami terlambat bangun.

Pada masa itu kami masih memakai jam weker. Kalau lupa di-stel, atau kalau bunyinya tidak terdengar, satu rumah bisa bangun ketika waktu sudah terlalu mepet. Dan bagi anak kecil yang sedang belajar puasa, tidak sahur itu rasanya seperti bencana. Seolah-olah hari itu sudah kalah sebelum dimulai.

Saya mulai belajar puasa sekitar umur empat tahun. Tentu belum sempurna. Kadang kuat, kadang tidak. Tapi justru karena masih kecil, saya merasa puasa itu perkara besar. Kalau batal, rasanya seperti melakukan kesalahan yang sulit dimaafkan, meskipun orang dewasa bilang tidak apa-apa.

Suatu kali kami terlambat bangun sahur. Ketika saya terbangun, waktu sudah sangat dekat dengan subuh. Mungkin malah sudah pas azan. Saya tidak ingat persis. Yang saya ingat, saya panik. Saya tahu, kalau sudah subuh, berarti tidak boleh makan lagi.

Bapa melihat saya. Mungkin beliau kasihan. Saya masih kecil, baru belajar puasa, dan kalau tidak sahur mungkin siang nanti saya akan loyo. Tapi kalau beliau langsung menyuruh saya makan, saya pasti menolak. Bagi saya waktu itu, makan setelah subuh berarti batal.

Bapa lalu melakukan sesuatu yang sampai sekarang tidak pernah saya lupa.

Beliau menyuruh lampu dimatikan.

Rumah menjadi gelap. Meja makan, piring, gelas, wajah Mama, wajah Kaka-kaka, semua masuk ke dalam remang. Bapa lalu mengangkat tangan saya, atau mungkin menyuruh saya melihat tangan saya sendiri.

“Ini lihat ni,” kata Bapa. “Belum bisa lihat kita pu bulu-bulu tangan. Itu artinya masih bisa sahur.”

Saya menatap lengan saya.

Memang gelap. Saya tidak bisa melihat bulu-bulu halus di tangan saya. Bapa lalu menjelaskan, dengan suara yang tenang, seolah-olah itu hukum lama yang tidak perlu diragukan.

“Jaman dulu waktu belum ada jam, patokannya dari bulu-bulu tangan.”

Saya percaya.

Anak kecil memang mudah percaya pada hal-hal yang dikatakan dengan penuh keyakinan, apalagi kalau yang mengatakannya adalah Bapa. Saya akhirnya makan. Hati saya lega. Puasa saya tidak batal. Setidaknya begitu yang saya yakini pagi itu.

Barangkali Bapa hanya ingin saya tidak melewatkan sahur. Barangkali beliau tahu saya terlalu kecil untuk memikul rasa bersalah karena makan beberapa menit terlambat. Barangkali beliau hanya sedang menjadi Bapa: mencari jalan paling lembut agar anaknya tetap kuat menjalani puasa, tanpa merasa dirinya curang.

Tidak lama setelah itu, Kaka Ham ikut mengambil piring.

Dia rupanya mendengar bahwa aturan bulu tangan masih berlaku. Kalau saya boleh makan, tentu dia merasa punya kesempatan juga. Tapi Bapa langsung menghentikannya.

“Aturan bulu tangan itu cuma untuk anak kecil saja,” kata Bapa. “Ko tra bisa. Ko su besar.”

Kaka Ham batal makan sahur.

Saya tidak ingat apakah dia protes atau tidak. Tapi kalau mengingat sifatnya, pasti mukanya berubah antara kecewa dan tidak terima. Di rumah kami, Kaka Ham selalu punya bakat membuat suasana kecil menjadi lucu, bahkan ketika dia sendiri yang sedang dirugikan.

Bertahun-tahun kemudian, tentu saya tahu bahwa aturan bulu tangan itu bukan ukuran waktu yang bisa dipakai seenaknya. Saya tahu Bapa mungkin sedang mengarang sedikit, atau meminjam cerita lama, atau mencampur semuanya supaya saya tenang.

Tapi anehnya, saya tidak pernah merasa dibohongi.

Yang saya ingat bukan salah-benarnya aturan itu. Yang saya ingat adalah rumah yang gelap sebentar, meja sahur yang menunggu, dan Bapa yang mencari cara agar seorang anak kecil tetap mau makan tanpa merasa puasanya rusak.

Mungkin dalam hidup anak-anak, kasih sayang orang tua sering datang dalam bentuk begitu: bukan penjelasan yang lengkap, bukan teori yang rapi, tapi akal kecil yang dibuat tergesa-gesa di antara kantuk, azan subuh, dan hidangan sahur yang belum sempat dihangatkan.

Sejak itu, setiap kali mengingat Ramadan masa kecil, saya selalu teringat pada pagi gelap itu. Pada Bapa. Pada lengan kecil saya yang saya pandangi sungguh-sungguh. Pada keyakinan sederhana bahwa selama bulu tangan belum terlihat, dunia masih memberi sedikit waktu tambahan.

Dan mungkin memang begitu cara Bapa mencintai kami.

Diam-diam. Pelan-pelan. Kadang dengan aturan yang hanya berlaku untuk anak kecil.