hari itu, ketika dia melintasi gang depan rumahmu sambil menyengir kuda memamerkan baris-baris gigi kemuningnya
kau hanya diam seperti takjub

hari itu, ketika dia berteriak-teriak mengejar layangan putus di atas kepalamu yang sudah tergolek di bantal dan membuatmu merelakan tidur siangmu terbuang
kau hanya mengelus dada menahan marah

hari itu, ketika dia dengan provokatif menuding-nuding ujung hidungmu lalu berbalik badan membuka celana dekil dan mengarahkan pantatnya ke mukamu
kau benar-benar ingin membunuhnya

hari itu, kau tak membunuhnya karena dia hanyalah anak kecil

***

hari itu, si amir anak sulungmu merengek-rengek minta dibelikan sepeda motor seperti milik temannya
katamu, “kau masih kecil, nak.”

***

hari itu, anakmu yang perempuan, yang menurutmu masih kecil, bolos sekolah karena diajak pacarnya dan lantas terjaring razia polisi pamong praja
kau menjadi begitu benci pada pacar anak perempuanmu bahkan menambahkan namanya dalam daftar hitam keluargamu

***

hari itu, si amir dan adik perempuannya itu meminta dibuatkan sarapan padamu karena ibu mereka telah minggat bersama pacar gelapnya
kau benar-benar marah kali ini, “bikin sendiri! kalian sudah besar!”

***
kau memang masih seorang anak kecil.